KUALA PEMBUANG – Sejumlah siswa SMP Negeri 1 Kuala Pembuang mengalami keluhan kesehatan disertai demam yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Kuala Pembuang, Kamis 30 Juli 2026.
Dugaan tersebut muncul setelah para siswa dan guru menyantap menu MBG pada Selasa 28 Juli 2026 yang berisi telur orek. Sehari berselang, banyak siswa tidak masuk sekolah karena mengalami diare dan demam.
Menanggapi laporan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Seruyan, Ruspandian Noor, memastikan pihaknya bergerak cepat dengan menerjunkan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk melakukan penanganan sekaligus penyelidikan guna memastikan penyebab kejadian.
Ruspandian menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan adalah menyusun kronologi kejadian berdasarkan informasi di lapangan. Selanjutnya, tim mengambil sampel makanan dari SPPG yang mendistribusikan MBG untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan apakah makanan menjadi penyebab munculnya keluhan pada para siswa.

Selain itu, Dinkes juga melakukan pendataan terhadap seluruh penerima manfaat yang mengalami gejala. Pendataan mencakup siswa yang menjalani perawatan mandiri di rumah, mendapatkan pelayanan di puskesmas, hingga yang dirawat di RSUD, agar seluruh korban memperoleh penanganan medis sesuai kondisinya.
Tidak hanya itu, inspeksi langsung juga dilakukan ke lokasi SPPG yang berada di Jalan A. Yani, Kuala Pembuang. Pemeriksaan difokuskan pada proses produksi makanan untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran terhadap standar operasional dalam pengolahan dan distribusi makanan.
“Semua masih dalam proses. Fokus kami saat ini memastikan penanganan berjalan maksimal dan tidak terjadi fatalitas atau korban meninggal dunia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membuka posko kesehatan di SMP Negeri 1 Kuala Pembuang,” ujar Ruspandian.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah pasti siswa yang terdampak masih dalam proses pendataan. Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil investigasi resmi, sementara pemeriksaan terhadap sampel makanan dan proses produksi di SPPG masih terus berlangsung guna mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.
(ASY)












