SAMPIT – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Rabu 5 Agustus 2026. Kondisi ini menjadi dampak meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dalam beberapa hari terakhir terus terjadi di berbagai wilayah Kotim.
Sejumlah warga mengaku kabut asap sudah mulai terasa sejak dini hari. Selain bau asap yang cukup menyengat, jarak pandang juga mulai terganggu, terutama menjelang matahari terbit.
Pengendara terlihat sudah mulai menggunakan masker demi melindungi dari kabut asap namun sebagian lainnya belum menggunakan masker, anak-anak juga harus menembus kabut untuk ke sekolah.
Salah seorang warga Sampit, Febri mengatakan bau asap sudah mulai tercium sekitar pukul 04.00 WIB. Kabut tampak semakin tebal sekitar jam 05.00 WIB sehingga mengurangi jarak pandang di sejumlah ruas jalan.
“Jam empat subuh sudah mulai tercium bau asap. Jarak pandang juga cukup terganggu karena kabutnya lumayan tebal. Sebenarnya sejak malam sudah kelihatan kalau paginya kabut bakal turun,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mulai berangsur membaik seiring matahari terbit dan suhu udara mulai menghangat.
“Setelah itu kabutnya mulai menipis karena matahari sudah mulai panas,” katanya.
Sebelumnnya diketahui bahwa Karhutla kian meluas bahkan dalam sehari petugas harus berjibaku dengan 11 karhutla, sebagian area sulit dijangkau, sebagian titik lagi sudah menyala beberapa hari seperti di Jalan Tjilik Riwut Km8-13 yang sudah padam kemudian menyala kembali.
Sementara itu sebelumnnya Bupati Kotim Halikinnor juga sudah meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap yang mulai muncul akibat karhutla.
Ia mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, kualitas udara pada pagi saat kabut bisa mencapai indeks 117,6 atau masuk kategori tidak sehat. Angka tersebut jauh di atas kondisi normal yang seharusnya berada di bawah indeks 50.
“Kalau pagi sudah terlihat berasap, berarti kualitas udara kita memang sudah mulai memburuk,” katanya.
Halikinnor juga menyoroti potensi bahaya bagi aktivitas transportasi sungai. Menurutnya, anak-anak dari Kecamatan Seranau yang setiap hari menyeberang menggunakan kelotok menuju sekolah di Sampit berisiko apabila kabut semakin tebal dan mengurangi jarak pandang.
“Ini juga berbahaya bagi yang menyeberang dari Seranau. Kalau kabut semakin tebal, dikhawatirkan terjadi tabrakan antar kelotok atau kapal karena jarak pandang terbatas,” ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengevaluasi langkah-langkah yang perlu dilakukan, termasuk mempertimbangkan penyesuaian jam belajar serta pembagian masker kepada masyarakat apabila kondisi terus memburuk. (Nardi)












