PALANGKA RAYA – Kemarau dan kabut asap masih menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Kondisi ini memicu kewaspadaan ekstra di sektor kesehatan masyarakat.
Merespons situasi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng bergerak cepat dengan menggencarkan edukasi guna menekan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Saat ini, sorotan utama pemerintah tertuju pada perlindungan kelompok rentan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, dr. Mikko Uriamapas Ludjen, memberikan atensi khusus kepada kelompok yang memiliki risiko tertinggi akibat paparan udara buruk.
“Khususnya ibu-ibu hamil, anak-anak balita, dan para lansia. Itu semua harus lebih berhati-hati,” ujar dr. Mikko, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ia menjelaskan bahwa daya tahan tubuh ketiga kelompok tersebut tergolong lebih rendah. Hal ini membuat mereka sangat rentan mengalami komplikasi jika terlambat ditangani.
Oleh karena itu, dr. Mikko meminta masyarakat tidak meremehkan gejala seperti batuk, pilek, atau sesak napas ringan. Ia mendorong terciptanya kesadaran deteksi dini di lingkungan keluarga.
“Kami terus mengimbau agar masyarakat segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan sampai menunggu berat,” imbuhnya.
Di sisi lain, ia juga berharap musim kemarau bisa segera berlalu karena turunnya hujan diyakini menjadi solusi alami untuk menekan penyebaran infeksi pernapasan tersebut.
“Mudah-mudahan kalau nanti hujan turun, kemarau lewat, dan asap berkurang, otomatis ISPA ini akan turun dengan sendirinya,” pungkasnya.
(Syauqi)










