Editor : Maulana Kawit
JAKARTA – Tokoh perempuan yang juga Desainer Indonesia, Poppy Susanti Dharsono menilai perkembangan ekonomi kerakyatan Indonesia pasca reformasi tidak berkembang dibanding dengan negara-negara tetangga seperti Thailand, Filipina dan China.
Hal tersebut, dikatakan Poppy dalam diskusi ‘Ekonomi Kreatif, Apa Sudah Efektif'? di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, (6/3/2019).
Menurut Poppy, di zaman Orde Baru (Orba), pemerintah saat itu menyadari bahwa rakyat hidup sangat berkecukupan hanya dari hasil ekspor minyak sawit nasional. Karena ekspor tersebut menjadi salah satu cara yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat.
Namun, lanjut Poppy, setelah memasuki era Reformasi, kegiatan ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat pun berakhir, pasalnya sistem kekuatan ekonomi kerakyatan yang diterapkan tidak berdasarkan pada satu komando.
“Saya lihat sistem ekonomi berjalan sendiri-sendiri dengan dana tidak kurang besar, sedikit sekali dan cukup. Perindustrian punya sendiri, perdagangan punya sendiri, pariwisata punya sendiri. Mereka bikin event-event sendiri semuanya,” ungkapnya.
Padahal, kata mantan Anggota DPD RI ini, jika ekonomi kerakyatan dibawah komando yang memiliki hati terhadap perekonomian kerakyatan Indonesia. Maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih pesat lagi dibanding Negara tetangga.
Untuk itu, kedepanya dalam mewujudkan kedaulatan rakyat di bidang ekonomi, Poppy meminta jabatan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) seharusnya dipegang oleh figur yang memahami potensi ekonomi yang ada pada masyarakat Indonesia, guna untuk memotivasi rakyat menjadi kreatif, bukan menjadikan lembaga yang pimpinannya seperti Event Organizer.
“Kira berharap pemimpin yang mampu mengorganisasi, merangkul semuanya, pemimpin yang selalu bisa memotivasi manusia lebih mandiri. Sehingga jiwa raga manusia Indonesia lebih kuat lagi. Jadi kalau kita kuat, baru bisa kreatif,” pungkas Poppy Dharsono.
(dis/beritasampit.co.id)












