Editor : Maulana Kawit
SAMPIT – Banyaknya destinasi wisata di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuka banyak peluang usaha kecil yang bernilai ekonomi. Tentunya dengan melibatkan masyarakat daerah tersebut.
Disisi lain, dengan meningkatkan jati diri budaya lokal secara tidak langsung juga dapat meningkatkan kepariwisataan. Atau sebaliknya, meningkatkan sektor pariwisata dengan menggali dan melestarikan tradisi budaya daerah.
Hal ini terungkap dalam diskusi “Pojok Aspirasi Pemuda”, dengan mengusung tema “Tantangan pengembangan ekonomi kreatif dan pelestarian budaya”.
Diskusi yang digagas Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kotim, Minggu (22/12/2019) malam, menghadirkan tiga dari empat bakal calon Bupati Kotim, sebagai pembicara, yakni Aswin Nur, M Rudini Darwan Ali, dan Halikinnor. Sementara sebagai keynote speaker malam itu adalah, Wahyudi K Anwar, mantan Bupati Kotim periode 2000-2010.
Pojok Aspirasi Pemuda ini juga dihadiri puluhan perwakilan organisasi kepemudaan, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat, serta anggota DPRD Kotim.
“Seperti di utara Kotim, yang merupakan penghasil ikan dan kelapa terbesar. Adanya sumber daya alam ini tentunya bisa bernilai ekonomis dan menjadi kreatifitas masyarakat setempat untuk mendapatkan penghasilan keluarga,” ucap Aswin Nur, yang saat ini masih menjabat sebagai Kepala Desa (Kades) Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Menurut Aswin, melalui tangan-tangan kreatif, ikan yang selama ini dijual bahkan keluar daerah, jika diolah dengan baik menjadi panganan akan menambah nilai ekonomi bagi warga atau masyarakat setempat.
Demikian juga batok kelapa yang selama ini dianggap limbah, dapat bernilai jual tinggi saat dijadikan souvenir. Hal tersebut dapat dipadukan dengan menggali dan memperkaya khasanah budaya untuk agar dikenal oleh masyarakat luas.
Hal senada diungkapkan M Rudini, mengatakan, kreativitas pemuda harus lebih diberikan ruang untuk berkembang, salah satunya dengan memberikan berbagai pelatihan-pelatihan. Dirinya mengakui, bahwa kreativitas harus diasah dan diperlukan latihan.
Disisi lain, dorongan dan motivasi pemerintah daerah dan swasta juga sangat dibutuhkan, baik dengan cara memberikan bantuan permodalan hingga pemasaran dari hasil kreativitas yang diciptakan.
“Pemuda yang kreatif sangat berperan efektif dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif,” ucap Anggota DPRD Kotim dari Partai Amanat Nasional.
Sementara Halikinnor mengakatan, modal utama dalam menghadapi tantangan adalah bagaimana terus berkreasi.
“Pengembangan ekonomi kreatif dapat dilakukan seiring dengan pengembangan wisata. Daerah kita potensinya cukup, peluangnya sangat terbuka. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang itu. Sebab untuk mengembangkan ekonomi kreatif, diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas dengan daya inovatif dan kreativitasnya,” ungkap Halikinnor, yang juga merupakan Sekretaris Daerah Kotim.
(jun/beritasampit)












