Oleh: Maman Wiharja (Wartawan Senior-beritasampit.com)
Detak jantung dan suasana hati yang luar biasa terus bergejolak kini dirasakan pasangan calon kepala daerah di seluruh Indonesia yang mengikuti kontestasi Pilkada Serentak 2024. Persiapan mental dan fisik bahkan pendanaan pun harus diperhitungkan dengan cermat.
Diketahui, saat akan mendaftar ke KPU, mereka berjuang bagaimana mendapatkan surat rekomendasi dari sejumlah partai politik (Parpol) yang ditempuh harus menggunakan pesawat ke Jakarta pulang-pergi (PP). Jelas sekali memerlukan ketahanan fisik yang sehat dan jantung yang kuat.
Setelah mendapatkan rekomendasi dari parpol yang dituju, tentunya para pasangan bakal calon kepala daerah sudah siap naik ‘Ring’ sebagai kontestan Pilkada Serentak 2024. Mereka dengan rasa optimis dan gagah perkasa laksana akan berangkat ke medan perang Bharatayuddha setelah dinyatakan sah oleh KPU dan lolos sebagai pasangan calon kepala daerah di Pilkada Serentak 2024. Mereka siap menuju gelanggang juang bersama seluruh pasangan bakal calon kepala daerah se-Indonesia yang memiliki visi-misi untuk melakukan perubahan pembangunan lebih baik lagi di daerahnya masing-masing.
Sementara pasangan bakal calon kepala daerah yang belum beruntung mendapatkan rekomendasi, tentunya harus bersyukur karena bebannya sudah berkurang, paling tidak dapat menghentikan Cost Politic untuk anggaran biaya yang harus dikeluarkan di Pilkada.
Pengamatan penulis, saat musim Pemilu atau Pilkada sejak dulu banyak bermunculan sejumlah orang dari berbagai kalangan tokoh-tokoh tertentu menawarkan jasa dengan mendatangi pasangan calon kepala daerah sambil memberi argumen dan harapan untuk menang dalam Pilkada.
Pasca reformasi 7 Juni 1999 atau 13 bulan masa kekuasaan Presiden Habibie, pemilu kembali dilaksanakan. Penulis sebagai pendatang dari Cirebon Jawa Barat, yang sudah mempunyai KTP Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dan matuh tugenah (memiliki tempat hidup yang nyaman) di Kota Pangkalan Bun, sekitar awal bulan Juni 1999 memberanikan diri mendaftar ke DPC PPP Kobar. Waktu itu sebagai ketua DPC dijabat Rahmat Hidayat, yang sekarang di Pilkada 2024 sebagai calon kepala daerah Kabupaten Kobar.
Seperti dialami penulis saat menjadi Caleg DPRD Kobar, ada beberapa orang yang mengaku dari kelompok tertentu datang kerumah, kemudian mereka berargumentasi bahwa penulis berpeluang besar bisa terpilih menjadi anggota DPRD. Mendengar itu, tentu saja hati penulis jadi terenyuh, yang ujung-ujungnya penulis memberi dana ala kadarnya, karena mereka meminta bantuan dengan dalih untuk kegiatan olahraga.
Banyaknya kunjungan orang yang datang kerumah penulis (meminta dana dengan halus) dengan berargumentasi pura-pura mau mendukung penulis bisa menang di Pileg itu sudah menjadi fenomena yang biasa. Apalagi bagi pasangan calon kepala daerah yang sudah siap mengikuti kontes Pilkada 2024, tentunya akan banyak yang datang dengan mengatasnamakan berbagai kalangan tertentu, yang saat ini banyak mengekor pada terbentuknya Tim Sukses. (Maaf bukan Tim Sukses yang hanya menaruh jaring uang, mencari keuntungan dari anggaran pasangan calon kepala daerah untuk kepentingan dirinya).
Dua bulan ke depan, dari mulai persiapan kampanye, perhitungan suara hingga pelantikan pemenang, kita bersama keluarga seperti biasa tenang dan damai, begitu pula masyarakat dan juga kita semua, sudah biasa hidup damai, bercengkerama, senda gurau dan main Futsal penuh kompak serta ngopi bareng. Tetapi penulis memprediksi, dengan dibentuknya beberapa Tim Sukses peserta pilkada, suasana akan berbeda dan terbelah menjadi beberapa kelompok yang beda pilihan yang pada akhirnya dalam satu keluarga, teman-teman kita dan umumnya masyarakat pun akan terjadi karena beda pilihan.
Nah itu juga salah satu fenomena yang sudah biasa di Pemilu/Pilkada, karena mereka semua memiliki hak pribadi untuk memilih siapa pasangan calon kepala daerah yang terbaik untuk dipilihnya.
Pengamatan penulis, terlalu murah harga diri kita dan pada umunya masyarakat, apabila di Pilkada Serentak 2024 , kita saling tegang, tidak tegur sapa alias cemberut, bahkan menjurus kepada hal-hal yang tidak diinginkan hanya karena beda pilihan kita bisa bentrok. Justru yang kita renungkan sekarang perlu menyikapi dan menelaah bersama-sama untuk mengukur sampai sejauh mana program kerja yang disosialisasikan para pasangan calon kepala daerah. Apakah visi -misi dan program kerjanya cocok hati kita dan tepat bisa melakukan Perubahan Pembangunan daerah kearah yang labih baik?.
Apabila hati kita merasa cocok memiliki kesamaan visi-misi dan program kerja yang disosialisasikan salah satu pasangan calon kepala daerah, mari kita bergabung (tanpa meminta imbalan) untuk mendukungnya. SEMOGA.











