PALANGKA RAYA – Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menerima pendanaan sebesar USD 5 juta dari Green Climate Fund (GCF) melalui program Emission Reduction (ER) REDD+ RPB.
Dana ini merupakan bagian dari total pendanaan USD 103,8 juta yang diterima Indonesia atas keberhasilan menurunkan emisi sebesar 20,25 juta ton CO2 ekuivalen selama periode 2014-2016.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalteng, Noor Halim, mengungkapkan bahwa pendanaan ini merupakan peluang besar bagi Kalteng untuk memperkuat tata kelola hutan.
“Dana sebesar USD 5 juta ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk memastikan keberhasilan program REDD+ di Kalteng,” ujarnya saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Persiapan Penyusunan Safeguard REDD+ di Luwansa Hotel, Palangka Raya, Kamis 23 Januari 2025.
Menurut Noor Halim, sejak November 2024, pemerintah telah memulai tahap implementasi program REDD+ di Kalteng.
Program ini bertujuan untuk mengelola hutan secara lebih lestari, meningkatkan tata kelola lingkungan, serta memberdayakan masyarakat dalam upaya mengurangi kemiskinan.
“Pendanaan ini tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal,” tambahnya.
Untuk memastikan penggunaan dana tersebut sesuai tujuan, DLH Kalteng mempersiapkan Safeguard sebagai kerangka pengaman.
Safeguard berfungsi untuk menganalisis dan meminimalkan dampak negatif dari program, serta mendorong dampak positif, baik dari aspek tata kelola, sosial, maupun lingkungan.
Safeguard juga mencakup berbagai isu penting, seperti transparansi tata kelola kehutanan, partisipasi masyarakat, penghormatan hak-hak adat, konservasi hutan alam, serta pencegahan kebocoran dan pengalihan emisi.
“Ini adalah langkah penting untuk memastikan dana yang diterima benar-benar memberikan manfaat maksimal,” jelas Noor Halim.
Melalui Sistem Informasi Safeguards (SIS) REDD+, data dan informasi terkait program akan dikelola secara transparan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Platform berbasis web ini memungkinkan pemantauan dan evaluasi program secara menyeluruh.
“Kami optimistis, dengan pendanaan ini, implementasi REDD+ di Kalteng dapat berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif yang besar, baik untuk lingkungan maupun masyarakat,” tutup Noor Halim.
(Sya'ban)












