JAKARTA– Sekretaris Fraksi Golkar DPR RI Mukhtarudin menyoroti peran besar sektor transportasi sebagai penyumbang utama emisi karbon di Indonesia.
Menurut Mukhtarudin, sekitar 49 persen konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional digunakan oleh sektor transportasi.
“Ini lah yang menjadikan kendaraan bermotor salah satu kontributor terbesar emisi gas rumah kaca,” beber Mukhtarudin, Sabtu 1 Februari 2025.
Untuk itu, Anggota Komisi XII DPR RI ini sangat optimistis Indonesia mampu beralih dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT).
“Dengan begitu, kita dapat memenuhi target emisi karbon yang ditetapkan,” imbub Mukhtarudin.
Adapun, lanjut Mukhtarudin, proses transisi tersebut dilakukan berdasarkan batas kemampuan nasional dan merujuk pada standar yang diterapkan negara-negara maju.
Apalagi, Politisi Dapil Kalimantan Tengah ini bilang indonesia memiliki target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada bauran energi nasional pada tahun 2025 ini.
“Artinya, kebijakan ini dipadukan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi hingga 29% pada tahun 2030, merupakan upaya yang jelas menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tandas Mukhtarudin.
Kendati demikian, Mukhtarudin mengaku pengembangan pembangkit berbasis EBT di Indonesia memiliki beberapa tantangan.
“Namun dengan adanya sosialisasi dan edukasi yang sistemik dan berkesinambungan, maka dapat meminimalkan resistensi masyarakat terhadap proyek pembangkit listrik berbasis EBT di Indonesia,” pungkas Mukhtarudin.
Jaga Keseimbangan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meyakini Indonesia mampu beralih dari batu bara ke Energi baru terbarukan (EBT).
“Selain pembangkit listrik, yang kita pakai batu bara dan fosil. Salah satu penyumbang terbesar CO2, itu adalah kendaraan kita,” kata Bahlil.
Namun, Ketum Golkar ini menegaskan Indonesia mulai berangsur-angsur menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Terkait upaya penanganan emisi, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah sudah mulai menerapkan langkah-langkah konkret untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, terutama di sektor industri.
“Tapi harus bertahap, di mana mengharuskan industri untuk beralih ke energi baru terbarukan. Kami berharap
Visi dan Misi Presiden dan Wakil Presiden RI yaitu Astacita poin 2 dan 5 tentang swasembada energi dan hilirisasi dapat terwujud,” pungkas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
(adista)












