PALANGKA RAYA – Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tercatat sebagai salah satu dari 15 provinsi dengan tingkat inflasi terendah secara nasional pada Januari 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) Kalteng mencapai 0,28 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,06.
Meskipun beberapa daerah di Kalteng mengalami inflasi, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan mayoritas provinsi lain di Indonesia.
Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tertinggi di Kalteng sebesar 0,97 persen dengan IHK 107,81, sedangkan Kota Palangka Raya justru mengalami deflasi sebesar 0,15 persen dengan IHK 105,15.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Setda Provinsi Kalteng, Sri Widanarni, menyebut capaian ini menunjukkan bahwa inflasi di Kalteng masih terkendali.
“Secara nasional, Kalteng berada di peringkat ke-15 dengan inflasi terendah. Mayoritas kabupaten/kota di Kalteng justru mengalami deflasi, kecuali Kapuas yang mencatat inflasi tertinggi. Namun, kenaikannya masih dalam batas wajar,” ujar Sri, usai menghadiri Rakor Pengendalian Inflasi Tahun 2025 dan Penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Pengawasan Perizinan di Daerah secara virtual di Kantor Gubernur Kalteng, Selasa 4 Februari 2025.
Sri menjelaskan, lonjakan harga di Kapuas diduga disebabkan oleh meningkatnya permintaan bahan pokok menjelang Haul Guru Sekumpul di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Kabupaten tersebut berbatasan langsung dengan Kalsel, sehingga terjadi peningkatan kebutuhan bahan pangan seperti cabai merah, cabai rawit, dan ayam ras.
Adapun deflasi di Kota Palangka Raya didorong oleh penurunan harga di beberapa sektor utama, seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (-11,23 persen) serta transportasi (-0,31 persen).
Pemerintah Provinsi Kalteng terus berupaya menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok guna mengendalikan inflasi, terutama menjelang bulan Ramadan yang biasanya disertai kenaikan permintaan barang di pasar.
(Sya'ban)












