MUARA TEWEH – Data sementara yang diperoleh dari BPBD Barito Utara mencatat sebanyak 53.655 jiwa terdampak bencana banjir yang tersebar di sembilan kecamatan, 33 desa, dan 10 kelurahan. Tidak hanya pemukiman yang terendam, namun infrastruktur vital juga turut terdampak.
Sebanyak 9.332 bangunan, 26 fasilitas kesehatan, 88 tempat ibadah, 42 sarana pendidikan, 42 gedung pemerintah, serta 30 jalan dan jembatan turut terendam.
Bahkan, Ketinggian air diperkirakan bervariasi antara 20 sentimeter hingga tiga meter, tergantung pada lokasi dan kedalaman genangan.
Sembilan kecamatan yang terkena banjir seperti Kecamatan Lahei, Lahei Barat, Teweh Tengah, Teweh Baru, Teweh Selatan, Teweh Timur, Montallat, Gunung Purei, dan Gunung Timang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Utara, Simamoraturahman, melalui Kabid Kedaruratan, Rijali Hadi, banjir ini disebabkan oleh meluapnya Sungai Barito serta anak-anak sungainya, yakni Sungai Lahei, Sungai Tewei, dan Sungai Montallat.
“Sebagian besar wilayah di Barito Utara, sekitar 70-80 persen, berada di bantaran sungai, sehingga sangat rentan terhadap banjir,” ungkap Rijali, Minggu 20 April 2025.
Rijali menyampaikan berdasarkan laporan hari ini, wilayah Kecamatan Gunung Purei dan Teweh Timur sudah mulai surut.
“Mudah-mudahan ketinggian muka air Sungai Barito tidak mengalami penambahan lagi, karena informasi dari Murung Raya, permukaan air Sungai sudah mengalami penurunan,” tambah Rijali.
Rijali menuturkan mengenai status banjir, bahwa pemerintah akan melakukan rapat lintas sektor untuk memutuskan langkah-langkah yang perlu diambil oleh pemerintah daerah.
“Rapat ini untuk menentukan tindakan yang perlu segera dilakukan guna menanggulangi dampak bencana dan memulihkan kondisi di wilayah,” terang Rizali. (isk)












