PULANG PISAU – Suasana berbeda terasa di halaman SMAN 1 Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, sejak Kamis pagi (25/4). Sebuah spanduk besar bertuliskan “Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB)” mengundang perhatian seluruh warga sekolah.
Hari itu, siswa, guru, dan staf berkumpul dalam semangat baru: membangun sekolah yang lebih siap menghadapi bencana. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah hadir langsung untuk membekali mereka dengan ilmu dan kesadaran kebencanaan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kalteng, Alpius Patanan, dipercaya sebagai pemateri. Dalam paparannya, Alpius menekankan pentingnya membangun budaya sadar bencana sejak dini, demi melindungi generasi muda dari berbagai ancaman alam yang bisa datang tanpa diduga.
“Bencana tidak bisa kita tolak, tapi kita bisa mempersiapkan diri untuk meminimalkan dampaknya,” ujar Alpius.
Alpius kemudian memperkenalkan aplikasi InaRisk Personal, alat bantu berbasis digital yang memungkinkan pengguna memetakan risiko bencana di sekeliling mereka.
Menurutnya, aplikasi ini penting untuk mendukung evaluasi mandiri satuan pendidikan terhadap indikator-indikator SPAB, seperti kesiapsiagaan infrastruktur, kapasitas SDM, hingga sistem peringatan dini.
“Petugas sekolah yang ditunjuk bisa melakukan penilaian mandiri lewat aplikasi ini. Ini langkah konkret untuk membangun sekolah aman,” jelasnya.
Kepala SMAN 1 Jabiren Raya, Iin Simalela, menyatakan rasa terima kasih atas perhatian BPBD Provinsi. Ia berharap program ini tidak berhenti di tahap sosialisasi saja.
“Kami ingin BPBD terus mendampingi kami dalam mewujudkan SPAB. Ini penting untuk melindungi siswa kami,” kata Iin.
Tak hanya itu, pihak sekolah juga berencana membentuk tim siaga bencana internal dan memperbarui jalur evakuasi serta titik kumpul di lingkungan sekolah, sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini.
Para siswa pun tampak antusias mendengarkan setiap materi yang disampaikan, terutama saat sesi interaktif tentang cara evakuasi darurat dan penggunaan aplikasi InaRisk.
Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama antara sekolah dan BPBD untuk terus meningkatkan kapasitas dan kesiapan menghadapi ancaman bencana. “SPAB bukan sekadar label. Ini harus menjadi budaya yang hidup di sekolah,” tutup Alpius.
(Sya'ban)












