PALANGKA RAYA — Pagi itu, suasana Aula Lapas Kelas II Palangka Raya berbeda dari biasanya. Semangat membuncah memenuhi ruangan, diwarnai deretan hasil karya tangan para warga binaan tas rotan, miniatur kayu, dan berbagai produk kerajinan lainnya terpajang apik di meja-meja pameran.
Setiap anyaman dan ukiran memancarkan cerita tentang harapan baru, tentang tangan-tangan yang memilih berkarya meski dibatasi jeruji. Warna-warna cerah dan detail rumit seolah berbicara: di balik tembok ini, hidup tak pernah berhenti bermimpi.
Di tengah keramaian itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kalimantan Tengah, Sri Widanarni, melangkah perlahan, matanya tak lepas dari karya demi karya yang ditampilkan. Mewakili Gubernur, ia hadir dalam acara puncak Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-61 yang diselenggarakan secara virtual, Senin, 28 April 2025.
Mengusung tema “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat,” peringatan tahun ini menjadi bukti nyata bahwa di balik pintu-pintu besi, ada tekad untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi sesama.
Sri mengaku terkesan dengan kualitas produk warga binaan yang, menurutnya, tak kalah dengan produk UMKM di luar Lapas. “Tinggal pemasarannya saja yang perlu kita dukung,” ujarnya.
Ia berjanji akan menyampaikan informasi tentang produk-produk ini kepada seluruh jajaran Pemerintah Provinsi hingga ke tingkat kabupaten/kota.
Harapannya, produk warga binaan Lapas perempuan dapat berkembang lebih jauh, tidak hanya dari sisi keterampilan tetapi juga dari segi pemasaran dan pelatihan lanjutan.
“Bekal keterampilan ini penting. Kami ingin ketika mereka bebas nanti, mereka bisa mandiri, punya masa depan,” kata Sri, suaranya tegas namun hangat.
Setelah meninjau pameran, acara berlanjut dengan penyerahan bantuan sosial kepada masyarakat sekitar dan pegawai Lapas.
Sri Widanarni menyerahkan bantuan itu bersama Kepala Lapas Kelas II Palangka Raya, Yunus Maraden Simangunsong.
Kehadiran sejumlah pejabat seperti unsur Forkopimda Provinsi Kalteng, Sekretaris Daerah Kota Palangka Raya, hingga Forkopimda Kota Palangka Raya menambah khidmat suasana.
Mereka tampak menyimak saat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyampaikan sambutan secara virtual, mengingatkan kembali misi utama pemasyarakatan: membina, bukan menghukum semata.
“Pegawai Lapas harus menjadi orang tua, sahabat, sekaligus guru bagi warga binaan,” kata Agus, menegaskan peran kemanusiaan di balik sistem pemasyarakatan.
Di ujung acara, semangat dan harapan terpantul dari mata para warga binaan yang menyaksikan karya mereka dihargai.
Dari balik jeruji, mereka menata asa, menunggu waktu untuk kembali ke masyarakat, kali ini dengan kepercayaan diri dan bekal keterampilan di tangan.
(Sya'ban)












