PALANGKA RAYA – Langit Palangka Raya belum sepenuhnya cerah ketika Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memperkenalkan sebuah logo, gambar sederhana namun sarat pesan.
Bukan sekadar angka “68”, tetapi narasi visual tentang jati diri, kebanggaan, dan ambisi masa depan daerah yang disebut sebagai jantung Borneo.
Logo Hari Jadi ke-68 Kalimantan Tengah itu diumumkan menjelang peringatan ulang tahun provinsi yang jatuh setiap 23 Mei.
Dengan tema “Kalimantan Tengah Masa Depan Indonesia”, desain ini menampilkan elemen-elemen lokal: ukiran Dayak, Burung Tingang, dan Tugu Telawang. Masing-masing hadir bukan sebagai ornamen, melainkan simbol yang mengandung makna filosofis.
Angka 6 berwarna merah dipadukan dengan motif ukiran Dayak berwarna putih perpaduan yang mencitrakan keberanian dan ketulusan.
“Ini semangat masyarakat Dayak dalam menjaga keutuhan NKRI,” kata Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran di Palangka Raya, Selasa, 6 Mei 2025.
Tak ada yang berlebihan: merah dan putih di tubuh angka itu seperti menegaskan bahwa nasionalisme dan kedaerahan bisa berjalan seiring.
Angka 8 tampil dalam rona hijau, bersanding dengan Burung Tingang dan Tugu Telawang. Hijau dipilih bukan tanpa alasan.
Ia menjadi penanda bahwa Kalimantan Tengah hendak melangkah dalam rel pembangunan yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan, sebuah pesan penting di tengah derasnya investasi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara di seberang pulau.
Burung Tingang, yang dikenal sebagai simbol spiritual masyarakat Dayak, terbang melampaui batas identitas.
Dalam logo ini, ia tidak sekadar digambarkan sebagai fauna bertuah, tapi juga simbol tanggung jawab dan kesetiaan dua hal yang menjadi pondasi masyarakat adat dalam merawat harmoni.
Adapun Tugu Telawang yang berdiri gagah di Bundaran Besar Palangka Raya, muncul sebagai penanda ibu kota provinsi.
Monumen itu kini dimaknai sebagai pusat geliat pembangunan dan pengingat bahwa Kalimantan Tengah bukan sekadar penonton dalam sejarah baru Indonesia: ia mitra strategis bagi IKN.
Logo itu, ringkas namun dalam, tak hanya menjadi bagian dari perayaan seremonial. Ia membawa pesan: bahwa Kalimantan Tengah ingin menempatkan dirinya dalam peta pembangunan nasional bukan hanya karena letaknya yang strategis, tapi karena ia membawa nilai, budaya, dan kesiapan menyongsong masa depan.
(Sya'ban)












