PALANGKA RAYA – Sore itu, di Hall Rumah Jabatan Bupati Kapuas, angin dari Sungai Kapuas mengalir tenang. Namun suasana dalam ruangan terasa penuh tekad.
Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran, berdiri di hadapan para camat, kepala desa, damang, dan tokoh masyarakat se-Kabupaten Kapuas.
Ia tidak sekadar menyampaikan sambutan. Ia berbicara tentang perjuangan. “Membangun Kalimantan Tengah tidaklah mudah,” ucap Agustiar, Selasa, 6 Mei 2025, suaranya datar tapi berisi.
Kalimantan Tengah, provinsi seluas lebih dari 153 ribu kilometer persegi itu, menurutnya menuntut lebih dari sekadar program. Ia butuh langkah bersama, kehendak kolektif.
Ia menyebut satu per satu tantangan di pedalaman seperti, akses jalan, pemerataan listrik, pendidikan, layanan kesehatan, dan kemiskinan. “Kalau desa–desa kita sejahtera, kita tidak akan lagi bicara ketimpangan,” katanya.
Agustiar tidak sedang menawarkan janji. Ia bicara soal arah. Baginya, pembangunan tidak boleh berhenti di kota. Ia harus menjangkau desa–desa yang jauh, bahkan dusun-dusun yang belum terpetakan dengan baik.
Ia pun menyerukan peran kepala desa dan damang sebagai kunci. Mereka bukan hanya pelaksana teknis pemerintahan, tapi juga penjaga tradisi, penengah konflik, dan pemimpin informal di tengah masyarakat.
“Kami butuh dukungan para kepala desa dan damang, terutama dalam menjaga kerukunan dan memperkuat program-program pembangunan,” ujarnya.
Tak lupa, Agustiar mengingatkan pentingnya penyelarasan arah kebijakan. Pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, hingga kelurahan dan desa semuanya harus dalam satu garis lurus. “Kalau tidak satu arah, program hanya akan macet di tengah jalan,” tukasnya.
Di hadapannya, para peserta menyimak. Wakil Gubernur Edy Pratowo hadir mendampingi. Jajaran Forkopimda tampak di sisi kiri ruangan.
Di barisan depan, Bupati Kapuas Wiyatno dan Wakil Bupati Kapuas Dodo serta para kepala perangkat daerah Kapuas duduk menyimak penuh perhatian.
Sore itu, di Kapuas, Agustiar tidak sekadar bicara pembangunan. Ia sedang menyusun fondasi semangat: bahwa memajukan Kalteng bukan soal seberapa cepat membangun kota, tapi seberapa jauh langkah bisa menjangkau desa–desa yang nyaris terlupakan.
(Sya'ban)












