SAMPIT – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kembali menghantui warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Antrean panjang di SPBU jadi pemandangan sehari-hari, sementara warganet ramai-ramai meluapkan kekecewaan mereka di media sosial.
Antrean panjang di sejumlah SPBU membuat warganet ramai-ramai meluapkan unek-uneknya melalui kolom komentar di media sosial Facebook Berita Sampit tentang kelangkaan BBM diserbu komentar yang menyoroti pelangsir, lemahnya pengawasan, hingga dugaan pengurangan suplai dari Pertamina, diakses pada Rabu 18 Juni 2025.
Salah satu warganet, Pipe Mar, secara singkat menulis, “Kebanyakan oknom sudah wdh kita ne, ha…….”, yang mencerminkan kekecewaan terhadap ulah pihak-pihak yang diduga memperparah situasi.
Sementara itu, Rahaisya Isso memberikan solusi agar pelayanan di SPBU tidak terhambat oleh pelangsir.
“Kalau pun pihak SPBU mengijinkan pelangsir minyak subsidi coba dibuat kan 2 tempat pengisian 1 khusus buat pelintas 1 lagi khusus buat pelangsir biar sama sama bisa berjalan cepat,” tulisnya
Senada dengan itu, Utuh Utuh menyoroti perilaku pelangsir yang menurutnya menyebabkan antrean makin parah. Ia menyebut beberapa SPBU yang kerap dikuasai pelangsir.
“Yg bikin panjang para pelangsir yg menggunakan motor besar terutama SPBU depan jalan Bromo dan jalan h.hasan Mansyur minyak bersubsidi hampir di borong para pelangsir polres Kotim kemana,” tegasnya.
Namun tidak semua menyalahkan pelangsir. Akun bernama Bore Banaran Jua justru melihat mereka sebagai bagian dari solusi di daerah terpencil.
“Serba salah juga kita, tdk bisa jua menyalah kn pelangsir soal nya klo kdda buhan pelangsir kaya apa nasip org yg di pedalaman. lgian seandai nya kita kehabisan mnyak di perjalanan tengah mlam klo kdda yg bejual eceran ngalih jua, sedangkn SPBU buka plingan smpai jam 9 mlm,” katanya.
Keluhan lain datang dari Alice Novi yang mengalami langsung kekecewaan saat mengantri. “Kmrn sore antri hampir 1 jam giliran tinggal 3 antrian lg malah minyak'x habis. rmh pas dibelakang SPBU pagi didatangi blm dtng, giliran sore didatangi lg malah kd kebagian.”
Ada juga warganet yang menyoroti dugaan penurunan suplai BBM dari Pertamina. Mas Gondrong menulis, “Apakah pernah ada yg bertanya, berapa sih sekarang ribu liter setiap harinya spbu d antar oleh pertamina??????, setahu saya pernah ngobrol ama sopir pertamina ada pengurangan 30 persen perharinya, coba tanya yg betul biar tidak salah paham.”
Sorotan terhadap lemahnya pengawasan juga dilontarkan Heryulimatson. Ia menyebut banyak sektor penting luput dari pengawasan.
“Hampir, minyak, sembako, LPG dll ngak tidak ada yang mengawasi, marak oplosan, timbangan, takaran, kemasan sudah banyak yang dipalsukan contoh kemaren kemasan minyak goreng 1 liter ternyata isinya cuma 780 ml.. belum lagi yang lain. Dan alasan-alasan lainya… Banyak aturan cuma tidak diawasi…padahal negara sudah banyak mengeluarkan dana untuk membuat aturan.. Kasihan masyarakat kecil…yang mau berusaha jadi Tameng dilapangan…usaha kecil jadi tameng,” komentar Heryulimatson.
Keluhan teknis datang dari Rusdi, yang merasa haknya atas BBM diambil oleh oknum SPBU.
“Dilangsir hati2 dgn oknum pengisi yg mamegang noksel barkode kita dputusx habis tu dgn barkode kita buat orgnya nglangsir org nuksel kerja sama dgn pelangsir soalnya saya ga bsa ngisi tau-taunya barkode saya miyaknya sudah dilangsir dan sy ga bisa ngisi padahal saya beberapa hari ga pernah ngisi terahir isi d SPBU bundaran samekto jadi oknom situ yg pakai barcode sy tampa d ketahui mks,” ujarnya.
Sementara itu, Jonison mengusulkan solusi antrean dengan membatasi proporsi kendaraan pelangsir.
“Coba para pelangsir dikurangin jatahnya..dan biar gak panjang antrian pelangsir harus ngalah dgn motor kecil 3 motor kecil baru para pelangsir 1 banding 3 lah..kasian org yg ingin lekas ada keperluan dan kepentingan itu yg lebih diutamakan dulu. klo pelangsir gak ada urusan dan kepentingan yg mendadak juga. kapan perlu pihak SPBU buat kan khusus tuk para pelangsir biar gak antri panjang.”
Rangkaian komentar ini menjadi cerminan keresahan warga atas distribusi BBM yang dianggap belum tertangani secara adil dan efisien. Warganet berharap pemerintah dan aparat terkait segera melakukan evaluasi serta penindakan tegas terhadap praktik-praktik yang merugikan masyarakat.
(Nardi)












