Oleh: Adista Pattisahusiwa
Pada sebuah momen wisuda yang penuh haru dan makna dari Rektor Unidjar Dr. Aidjarang (Djar) Wattiheluw, seorang tokoh yang dikenal memiliki visi kuat terhadap pembangunan sumber daya manusia, menyampaikan pesan mendalam kepada para wisudawan dan wisudawati angkatan ke-II di Gedung Baileo Ir. Soekarno, Selasa 17 Juni 2025.
Ada 110 dari 137 wisudawan berasal dari Fakultas Ilmu Administrasi Negara, sementara 27 wisudawan lainnya dari Program Studi Administrasi Niaga tersebut bukan sekadar seremoni penutup perjalanan akademik, melainkan gerbang menuju tanggung jawab yang lebih besar.
Dalam sambutannya, Dr. Djar menegaskan bahwa ilmu yang telah diperoleh selama masa studi harus diaplikasikan secara profesional dan berintegritas, dengan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama, khususnya bagi mereka yang akan berkarier di instansi pemerintahan, sangat mencerminkan tantangan nyata di era modern saat ini.
Integritas, Fondasi Pelayanan Publik
Di tengah kompleksitas birokrasi dan dinamika sosial, integritas menjadi mata uang langka yang menentukan kualitas seorang profesional.
Lulusan Administrasi Negara, yang banyak diharapkan berkarier di sektor publik, menghadapi ujian nyata, bagaimana tetap konsisten menjunjung kejujuran dan etika di tengah tekanan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang masih mengintai sistem pemerintahan saat ini.
Di sinilah ilmu administrasi yang dipelajari selama kuliah diuji, harus mampu menyusun kebijakan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Sementara itu, lulusan Administrasi Niaga dihadapkan pada dunia bisnis yang kompetitif dan terus berubah.
Profesionalisme yang dimaksud Rektor bukan hanya soal keahlian teknis, seperti menyusun laporan keuangan atau strategi pemasaran, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tren global.
Di era digital, misalnya, kemampuan memanfaatkan data analytics untuk pengambilan keputusan bisnis menjadi krusial. Namun, profesionalisme juga berarti menjaga etika bisnis, tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga memastikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Pesan Rektor untuk menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama adalah panggilan moral yang mendalam.
Baik di sektor publik maupun swasta, lulusan kedua prodi ini memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Di pemerintahan, mereka bisa mendorong reformasi birokrasi yang lebih responsif terhadap kebutuhan rakyat, seperti mempercepat pelayanan publik melalui digitalisasi.
Di sektor niaga, mereka dapat menciptakan inovasi bisnis yang inklusif, misalnya mendukung UMKM lokal untuk berkembang di pasar global.
Pernyataan Djar Wattiheluw ini bukan sekadar nasihat seremonial, melainkan sebuah seruan yang sarat makna, menggambarkan tantangan dan tanggung jawab besar yang diemban oleh generasi muda dalam membangun masa depan bangsa.
Mengutamakan Kepentingan Masyarakat
Pesan Djar Wattiheluw untuk menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.
Di tengah kompleksitas tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini, para wisudawan khususnya yang akan berkarier di sektor publik dituntut untuk memiliki visi yang jelas tentang bagaimana ilmu mereka dapat berkontribusi pada kesejahteraan kolektif.
Mengingat, pemerintahan yang baik bukan hanya tentang efisiensi administrasi, tetapi juga tentang bagaimana kebijakan dan tindakan yang diambil dapat memberikan manfaat nyata bagi rakyat.
Sebagai contoh, seorang wisudawan yang berkarier di instansi pemerintahan mungkin akan dihadapkan pada dilema antara menjalankan tugas sesuai prosedur atau menghadapi tekanan untuk mengambil jalan pintas demi kepentingan tertentu.
Di sinilah integritas berperan. Dengan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas, seorang pejabat publik akan lebih mudah menolak godaan untuk menyimpang dari prinsip-prinsip yang benar.
Misalnya, dalam pengelolaan anggaran publik, integritas menuntut transparansi dalam penggunaan dana, sementara profesionalisme menuntut efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaan proyek demi kepentingan masyarakat.
Tantangan di Instansi Pemerintahan
Bekerja di instansi pemerintahan bukanlah tugas yang mudah. Selain menghadapi ekspektasi masyarakat yang tinggi, para wisudawan juga harus berhadapan dengan sistem birokrasi yang kadang-kadang kaku, sumber daya yang terbatas, dan tekanan politik yang kompleks.
Dalam konteks ini, pesan Djar Wattiheluw menjadi semacam panduan moral sekaligus strategis. Profesionalisme memungkinkan mereka untuk menavigasi tantangan-tantangan tersebut dengan solusi yang inovatif dan efektif, sementara integritas memastikan bahwa solusi tersebut tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
Salah satu tantangan terbesar di instansi pemerintahan adalah mempertahankan kepercayaan publik. Menurut survei yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) pada tahun 2025, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik di Indonesia masih fluktuatif, terutama karena isu korupsi dan inefisiensi birokrasi.
Para wisudawan yang baru memasuki dunia pemerintahan memiliki peluang untuk mengubah persepsi ini dengan menunjukkan kinerja yang tidak hanya kompeten, tetapi juga jujur dan berorientasi pada pelayanan.
Menyemai Harapan untuk Masa Depan
Harapan Djar Wattiheluw kepada para wisudawan bukan sekadar retorika, tetapi sebuah panggilan untuk bertindak.
Generasi muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi adalah agen perubahan yang memiliki potensi untuk membawa transformasi positif, terutama di sektor publik.
Namun, potensi ini hanya akan terwujud jika mereka mampu menginternalisasi nilai-nilai profesionalisme dan integritas dalam setiap aspek pekerjaan mereka.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, para wisudawan perlu terus mengasah kemampuan mereka, baik melalui pelatihan profesional maupun pembelajaran mandiri.
Mereka juga harus membangun jaringan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk masyarakat sipil, akademisi, dan sektor swasta, untuk menciptakan solusi yang holistik bagi permasalahan sosial.
Selain itu, penting bagi mereka untuk tetap kritis terhadap sistem yang ada, tanpa kehilangan semangat untuk berkontribusi secara konstruktif.
Kesimpulan, Menjawab Panggilan dengan Aksi
Pesan Djar Wattiheluw adalah cerminan dari harapan besar terhadap generasi muda untuk menjadi motor penggerak perubahan.
Dengan mengaplikasikan ilmu secara profesional, menjaga integritas, dan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas, para wisudawan tidak hanya akan memenuhi ekspektasi pribadi mereka, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Di tengah tantangan yang kompleks, mereka adalah harapan baru yang membawa lentera profesionalisme dan integritas untuk menerangi jalan menuju pemerintahan yang lebih baik dan masyarakat yang lebih sejahtera.
Sebagai penutup, mari kita renungkan, ilmu adalah alat, profesionalisme merupakan cara menggunakannya, dan integritas yakni kompas yang memastikan alat itu digunakan untuk kebaikan.
Kepada 137 wisudawan Unidjar angkatan ke-II tahun 2025, dunia menanti langkah kalian, khususnya di instansi pemerintahan untuk menunjukkan bahwa harapan Rektor Dr. Aidjarang Wattiheluw bukan sekadar kata-kata, tetapi kenyataan yang harus dapat diwujudkan. (***)
Penulis Adalah Wartawan Dest Politik Parlemen Senayan












