PALANGKA RAYA – Kabupaten Lamandau dan Kabupaten Kapuas berhasil meraih juara pertama pada dua kategori utama dalam ajang Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) dan TTG Unggulan Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Tahun 2025, yang digelar di Swiss-Belhotel Danum, Palangka Raya, Selasa, 26 Juni 2025.
Untuk kategori Inovasi TTG, juara pertama diraih oleh Ika Fitriana Dyah Ratnasari dari Kabupaten Lamandau dengan karya berupa Mesin Pengolah Gulma dan Limbah Pertanian menjadi Pulp dan Kertas.
Peringkat kedua diraih oleh Weldu dari Kabupaten Murung Raya, disusul Ali Mustapa dan Mulia Adi dari Kabupaten Kapuas di posisi ketiga.
Sementara itu, pada kategori TTG Unggulan, peringkat pertama diraih oleh I Wayan Susilo dan Mahduni dari Kabupaten Kapuas berkat inovasi Alat Pemupuk Tanaman Multifungsi.
Posisi kedua ditempati Anas Yusuf dari Kabupaten Pulang Pisau, dan peringkat ketiga diraih Oei Sugianto dari Kabupaten Barito Selatan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Kalteng, H. Aryawan, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh peserta dan pemenang atas kontribusi nyata dalam menciptakan solusi inovatif berbasis teknologi yang aplikatif.
“Selamat atas prestasi yang diraih. Ini bukanlah akhir, tetapi pemicu semangat untuk terus menciptakan dan mengembangkan TTG yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bentuk penghargaan dan dukungan, para pemenang pertama dari masing-masing kategori akan mewakili Kalteng dalam ajang Teknologi Tepat Guna Nusantara XVII Tingkat Nasional yang akan digelar September 2025 mendatang di Provinsi Banten, diselenggarakan oleh Kementerian Desa dan PDTT RI.
Dalam sambutan pembukaannya pada lomba ini, Aryawan menekankan pentingnya pemanfaatan TTG sebagai solusi strategis dalam mendorong produktivitas dan kemandirian masyarakat desa di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
“TTG adalah teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat, mudah diterapkan secara mandiri, ramah lingkungan, dan memiliki nilai tambah secara ekonomi dan ekologi,” jelasnya.
Ia juga mendorong agar pemanfaatan teknologi tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga melalui lembaga seperti Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek), sehingga bisa menjangkau masyarakat desa secara lebih luas.
Menurut Aryawan, kemandirian desa dalam memproduksi kebutuhan sehari-hari secara lokal merupakan kunci untuk membangun ekonomi desa yang tangguh dan berkelanjutan.
“Kami berharap inovasi yang lahir dari lomba ini tidak hanya berhenti sebagai prototipe, melainkan dapat dikembangkan lebih jauh menjadi teknologi yang benar-benar diterapkan dan memberi manfaat nyata,” pungkasnya.
(Sya'ban)












