SAMPIT – Pembangunan Rumah Betang di Desa Luwuk Sampun, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi dimulai. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Bima Ekawardhana, menegaskan dengan berdirinya rumah betang megah ini, diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya Dayak, tetapi juga mempererat solidaritas lintas suku dan agama di Kotim.
Kedepannya rumah betang ini diharapkan juga dapat menjadi destinasi wisata baru. Meski bukan aset resmi Disbudpar, potensi rumah betang untuk menarik wisatawan tetap besar.
Selain itu, rumah betang juga digadang-gadang menjadi warisan sejarah yang dapat dinikmati generasi mendatang.
“Kehadiran rumah betang bukan hanya sebagai bangunan fisik, melainkan lambang persatuan dan keharmonisan masyarakat,” ungkap Bima, Senin 30 Juni 2025.
Rumah betang adalah simbol gotong royong dan kebersamaan suku serta agama, dan mencerminkan keharmonisan masyarakat.
Pembangunan rumah betang di Tualan Hulu dinilai penting sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus ruang berkumpul masyarakat. Sebab sekarang ini Kotim cuma memiliki satu rumah betang yang berada di Desa Tumbang Gagu.
“Rumah betang ini rencananya akan digunakan sebagai pertemuan atau acara keagamaan di wilayah setempat,” bebernya.
Pembangunan rumah betang ini ditargetkan rampung pada 2026 mendatang. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta menjadi kunci untuk merealisasikan proyek yang bernilai miliaran rupiah tersebut.
Rumah betang ini diharapkan menjadi ikon baru sekaligus simbol pelestarian budaya Dayak yang mulai pudar ditelan zaman.
Prosesi adat Tampung Tawar sebagai tanda dimulainya pembangunan tiang utama sudah digelar Sabtu 28 Juni lalu, dihadiri berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, tokoh adat, hingga perwakilan perusahaan. (nardi)












