SAMPIT – Polemik tambang emas ilegal di Desa Kawan Batu, Kecamatan Mentaya Hulu menuai perhatian Ketua Komunitas Peduli Kotawaringin Timur (Kotim) Audy Valent, dirinya meminta agar pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga memberi solusi jangka panjang melalui legalisasi aktivitas tambang rakyat.
“Mestinya pemerintah mencarikan solusi, buatkan IPR (Izin Pertambangan Rakyat). Ini bukan hanya soal hukum, tapi juga soal keberlangsungan hidup ribuan pekerja yang selama ini menggantungkan penghasilan dari tambang,” kata Audy, Jumat 4 Juli 2025.
Ia menilai bahwa aktivitas penambangan di kawasan tersebut sudah berlangsung puluhan tahun dan melibatkan ribuan pekerja dari berbagai daerah.
Karena itu, menurutnya, pendekatan represif saja tidak cukup tanpa diiringi langkah pengaturan dan pembinaan.
“Bayangkan kalau ribuan pekerja ini distop mendadak. Bagaimana nasib ekonomi keluarga mereka? Mayoritas dari mereka tidak punya keterampilan lain selain menjadi penambang,” ujarnya.
Audy mendorong agar Pemkab Kotim dan Pemprov Kalteng turun tangan memfasilitasi para penambang rakyat ini untuk mendapatkan izin resmi, sehingga mereka bisa bekerja secara legal dan tidak terus-menerus dihantui status ilegal.
“Pemerintah harus beri jalan, jangan hanya melarang. Bantu mereka urus izin, atur zonasinya, dan berikan pembinaan agar pengelolaan tambang bisa ramah lingkungan dan sesuai aturan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan tambang rakyat yang legal bisa memberi dampak positif bagi daerah, baik dari sisi ekonomi maupun ketertiban sosial, karena pemerintah dapat mengontrol dan menarik retribusi atau pajak dari aktivitas yang sebelumnya tidak tercatat.
Diberitakan sebelumnya ada sekitar ratusan orang melalukan aktivitas tambang emas ilegal di Desa Kawan Batu, Kecamatan Mentaya Hulu, diduga karena adanya bekingan, Rabu 2 Juli 2025.
Aktivitas tambang emas ada di dua titik, yaitu di Ngabe dan lokasi 60 yang sering disebut oleh warga lokal, sedangkan lokasi yang besar tambangnya adalah di Ngabe.
Sebelum memasuki lokasi, di jalan poros Kuayan sebelum jembatan minibus telah berjajar parkir diduga milik para pekerja yang jumlahnya mencapai ratusan dan panjangnya mengular hingga satu kilometer.
Menurut seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, bahwa ada tiga nama yang berpengaruh di lokasi tersebut untuk menarik uang taktis dari para pekerja yang akan disetor kepada sejumlah pihak agar aktivitas itu tetap aman berjalan.
(Nardi)












