Musim kemarau membawa suasana khas di Kota Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng). Setiap sore, langit dihiasi layang-layang beraneka warna yang diterbangkan anak-anak dari berbagai sudut kota. Tradisi bermain layangan ini tak hanya menghidupkan suasana, tapi juga menjadi momen kebersamaan yang penuh keceriaan. Meski menyenangkan, aktivitas ini juga perlu diwaspadai karena dapat membahayakan pengguna jalan.
Oleh: Ahmad Winardi
Saat matahari mulai condong ke barat dan angin sore berembus kencang, langit Kota Sampit Kotawaringin Timur (Kotim) menjelma menjadi panggung pertunjukan bagi ratusan layang-layang, Rabu 16 Juli 2025.
Dari berbagai penjuru, tampak titik-titik warna-warni melayang di angkasa, layangan milik anak-anak yang dilepas dengan penuh semangat dari perumahan, halaman rumah, belakang rumah, kebun, lapangan terbuka hingga pinggir jalan, dimanapun yang dianggap pas untuk menerbangkan layangan.
Pemandangan itu bukan sekadar rutinitas musim kemarau. Ini adalah tradisi yang masih hidup dan menjadi bagian dari kenangan kolektif masyarakat kota.
Anak-anak berdiri berjajar, tangan mereka erat menggenggam benang, mata menatap langit penuh konsentrasi. Ada yang berdiri tenang mengendalikan arah, ada pula yang berlari kecil mengikuti arah angin, bahkan sebagian lainnya tampak lebih serius, mengadu ketangkasan layangan dengan sesama.
“Ayo sasah! (ayo kejar)” seru seorang anak yang sedang mengejar layangan putus usai sedang ‘betegang' istilah di Sampit yang berarti saling mengadu layangan.
Saat salah satu layangan akhirnya terputus, sekelompok anak pun beradu lari, sebagain mengayuh sepeda mereka mengejar gulungan benang yang terbawa angin. Kejar-kejaran pun menjadi bagian seru dari permainan ini, menambah riuh sore di kota.
Namun, keseruan itu tidak selalu berujung manis. Bermain layangan di pinggir jalan kadang membawa risiko bagi pengguna jalan.
Mata anak yang fokus ke atas mengejar layangan membuat lupa situasi lalu lintas disekitarnya, membahayakan dirinya dan pengguna jalan.
Pernah juga terjadi insiden seorang pengendara luka di leher akibat terjerat benang layangan yang melintang. Peristiwa itu menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan keselamatan.
Salah satu anak, Rayyan tampak menikmati aktivitas tersebut. Ia mengaku biasa bermain layangan sepulang sekolah.
“Saya senang main layangan,” ujarnya yang mengaku diajari oleh ayahnya tersebut sambil memainkan layangan berwarna biru miliknya.
Bagi Rayyan dan anak-anak lainnya, layangan bukan sekadar hiburan. Ia menjadi simbol kebebasan, kreativitas, bahkan ajang adu keterampilan. Di balik benang yang melayang itu, tersimpan cerita tentang ikatan keluarga, tradisi, dan kegembiraan masa kecil yang tak lekang oleh waktu.
Begitu pula orang dewasa juga kadang ikut nimbrung bermain layangan sebagai momen nostalgia mereka saat masih kecil dahulu bermain layang-layang.
Musim layangan di Sampit adalah momen yang menyatukan langit yang biru, angin yang setia, anak-anak yang riang, dan kenangan yang tak akan pernah hilang tertiup angin.(*)












