PULANG PISAU – Malam Puncak Kahanjak Darung Bawan yang digelar Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK), di GPU Handep Hapakat, menjelma menjadi panggung perayaan sekaligus seruan kuat bagi generasi muda Pulang Pisau untuk peduli pada lingkungan dan menjaga ekosistem gambut.
Mengusung tema “Kahanjak Darung Bawan”, acara ini tidak sekadar hiburan. Berbagai lomba yang digelar sarat nilai edukasi, mulai dari membuat skat kanal untuk pengendalian air, lomba memadamkan api sebagai simulasi pencegahan Karhutla, hingga lomba menganyam rotan yang mengangkat kearifan lokal masyarakat Pulang Pisau.
Direktur KPSHK, Mohamad Djauhari, menekankan bahwa pelibatan anak muda menjadi kunci keberhasilan gerakan pelestarian lingkungan. Menurutnya, pengetahuan di bangku sekolah belum cukup tanpa aksi nyata. “Melalui lomba ini, kami ingin anak-anak tidak hanya tahu, tetapi juga terbiasa melakukan tindakan sederhana yang berdampak besar bagi lingkungan,” ujarnya usai kegiatan, Jumat 22 Agustus 2025.
Djauhari mengingatkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bukan sekadar bencana musiman, melainkan ancaman nyata yang selalu mengintai.
“Kita sering menganggap bencana datang tiba-tiba, padahal ancaman itu ada di sekitar kita setiap hari. Karena itu kesadaran masyarakat harus terus dibangun,” tegasnya.
Apresiasi tinggi datang dari Wakil Bupati Pulang Pisau, H Ahmad Jayadikarta, yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai, Kahanjak Darung Bawan berhasil mengemas peringatan HUT ke-80 RI dengan pesan lingkungan yang kuat dan menyentuh hati masyarakat.
“Pulang Pisau punya pengalaman pahit akibat Karhutla. Karena itu menjaga gambut bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Saya berterima kasih kepada KPSHK yang konsisten mengajak masyarakat, terutama generasi muda, menjadi bagian dari solusi,” kata Jayadikarta.
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati juga memberikan penghargaan kepada masyarakat adat, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), pelajar, hingga komunitas yang terlibat aktif dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, kolaborasi lintas kelompok adalah kunci agar pelestarian lingkungan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Lingkungan, budaya, ekonomi masyarakat, dan solidaritas sosial bisa tumbuh bersama. Semoga kegiatan ini melahirkan inovasi, kolaborasi, serta aksi nyata untuk menjaga warisan gambut, sehingga anak cucu kita masih bisa merasakan manfaatnya,” pungkasnya. (ds)












