SAMPIT – Ketua Komisi III DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Dadang H Syamsu yang juga dipercaya sebagai Ketua dan Dewan Pembina Silat Kuntau Bangkui, menyambut baik pengakuan resmi bela diri khas Dayak tersebut sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) milik Kotim. Namun di balik rasa bangga itu, ia menyindir minimnya perhatian pemerintah daerah khususnya Bupati Kotim terhadap pembinaan budaya dan pariwisata.
Menurutnya, pengakuan hukum tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai tindakan nyata di lapangan.
“Saat ini anggota Kuntau Bangkui sudah lebih dari seribu orang dengan cabang dan ranting di berbagai wilayah. Pendaftaran hak paten ini penting, tapi jangan berhenti hanya sebatas dokumen. Bupati harus benar-benar hadir membina agar silat tradisional ini tidak sekadar simbol,” tegas Dadang, Selasa 26 Agustus 2025.
Ia menilai, Dinas Kebudayaan selama ini justru kesulitan menjalankan program karena anggaran yang sangat terbatas. Akibatnya, banyak potensi budaya di Kotim yang tidak tergarap maksimal.
“Kalau saja Bupati serius, Kuntau bisa tampil rutin dalam event pemerintahan, penyambutan tamu nasional, hingga festival budaya. Tapi yang terjadi, pidatonya saja mendukung budaya, aksi di lapangan minim,” kritiknya.
Menurut Politisi PAN Dapil II Kotim ini, kurangnya perhatian ini membuat pembinaan Kuntau Bangkui berjalan setengah hati. Padahal minat masyarakat untuk mempelajari silat tradisional ini sangat tinggi. Hambatan lain, sebagian besar pelatih masih harus bekerja sambil melatih, sehingga sulit fokus membina murid.
“Seringnya kas kosong di dinas pariwisata juga membuat pembinaan budaya jalan di tempat. Tidak hanya kuntai bangkui, namun tradisi khas Sampit lainnya juga tidak diadakan. Jadi jangan hanya bicara besar soal pelestarian budaya, tapi buktikan dengan dukungan anggaran yang jelas,” ujarnya tajam.
Selain Kuntau, Dadang mendorong Pemkab segera menginventarisasi budaya asli Kotim lain, termasuk kuliner khas Sampit. Ia mencontohkan minuman tradisional sari nanas gantang yang seharusnya bisa dipatenkan sebagai identitas lokal.
“Rapat Pemkab mestinya juga menghadirkan kuliner khas daerah. Itu bentuk nyata pembinaan,” katanya.
Dadang menyebut, Padepokan Kuntau Bangkui berada di sekitar pelabuhan Pertamina Sampit, namun kelompok latihan juga tersebar ke berbagai pelosok hingga ke perkebunan.
“Justru karena sifatnya yang tradisional, Kuntau ini wajib dijaga sebagai warisan budaya Kotim. Jangan sampai hilang hanya karena pemerintah lalai memperhatikannya,” pungkasnya. (nardi)












