SAMPIT – Tingginya angka gangguan jiwa pada pelajar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang disampaikan Dinas Kesehatan dari hasil skrining kesehatan belakangan ini mendapat sorotan dari DPRD setempat.
Sekretaris Komisi III DPRD Kotim, Langkap menduga salah satu faktor yang diduga kuat menjadi pemicu adalah kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.
Selain itu gangguan kejiwaan yang dialami pelajar yaitu gejala depresi maupun kecemasan disebabkan karena ketika usia remaja masih tahap mencari jati diri.
“Kondisi itu membuat remaja sulit menempatkan diri sesuai keadaan yang dihadapi, sebab pada usia tersebut mereka masih dalam tahap pencarian identitas diri,” kata Langkap politisi Gerindra, Selasa 23 September 2025.
Secara medis, kecemasan itu muncul karena remaja masih berkutat dengan pikiran tentang diri mereka sendiri.
Jika tidak ditangani, ini bisa berkembang menjadi depresi yang berdampak pada kesehatan mental anak.
Ketua Komisi III DPRD Kotim Dadang H Syamsu menambahkan pihaknya mengetahui hasil pemeriksaan kesehatan pelajar ini justru dari media. Menurutnya, sampai saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) belum menyampaikan secara resmi kepada DPRD.
“Akhir bulan ini ada pembahasan APBD 2026, di situlah nanti kami dalam rapat kerja akan mempertanyakan langsung ke Dinkes terkait pemicu, penyebab, serta langkah apa saja yang sudah dilakukan dinas teknis untuk menjaga kesehatan fisik dan mental peserta didik,” jelas Dadang politisi PAN ini.
DPRD menilai jika benar perundungan menjadi pemicu utama, maka konsep zero bullying harus betul ditegakkan di seluruh sekolah di Kotim.
Perlindungan anak yaitu mereka yang di bawah usia 18 tahun wajib ditegakkan, termasuk dari kekerasan fisik maupun verbal, dan hal ini berkaitan dengan sebagaimana diatur dalam regulasi daerah tentang Kabupaten Layak Anak.
Sebelumnnya Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengungkapkan hasil pemeriksaan kesehatan gratis di sejumlah sekolah menemukan lebih dari 100 pelajar SMP terdeteksi mengalami gejala gangguan jiwa yaitu gejala kecemasan.
“Jumlah ini cukup tinggi. Memang masih tergolong ringan, tapi tidak boleh diabaikan. Kita belum tahu apa penyebab pastinya,” kata Umar.
Ia menjelaskan dugaan sementara gangguan jiwa pada pelajar bisa dipicu banyak faktor seperti tekanan akademik, perundungan (bullying), hingga masalah keluarga maupun pergaulan. Dinkes berencana melakukan survei lebih mendalam untuk menemukan akar masalah, sebelum melakukan intervensi. (nardi)












