SAMPIT – Memasuki musim hujan, sejumlah wilayah di Indonesia mulai menghadapi tantangan kesehatan yang cukup serius. Tingginya curah hujan dan kelembapan udara yang meningkat dapat memicu berbagai penyakit, mulai dari influenza, diare, hingga demam berdarah dengue (DBD).
Kondisi ini membuat masyarakat harus lebih waspada serta meningkatkan perhatian terhadap pola hidup sehat.
Dr. Muhammad Haekal, Verifikator BPJS Kesehatan Kanto Cabang Sampit, menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman penyakit di musim hujan. Menurutnya, faktor cuaca yang tidak menentu sering kali membuat daya tahan tubuh menurun sehingga lebih rentan terpapar penyakit.
“Musim hujan bukan berarti aktivitas harus berhenti. Namun, masyarakat perlu memberi perhatian lebih pada kesehatan tubuh. Konsumsi makanan bergizi, perbanyak minum air putih, dan jaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit musiman,” kata Dr. Haekal dalam wawancara, Jumat 26 September 2025.
Ancaman Penyakit di Musim Hujan
Dr. Haekal menjelaskan bahwa ada beberapa penyakit yang sering meningkat kasusnya saat musim hujan. DBD, misalnya, biasanya melonjak karena banyaknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, penyakit saluran pernapasan seperti influenza dan ISPA juga lebih mudah menular karena udara dingin dan kelembapan tinggi.
“Langkah pencegahan sederhana seperti menjaga pola makan, memastikan tubuh tetap hangat, serta menerapkan 3M Plus untuk memberantas sarang nyamuk sangat efektif dalam menekan risiko penyakit,” jelasnya.
Ia menambahkan, masyarakat sebaiknya tidak menunda berobat ketika mengalami gejala penyakit. Penanganan dini sangat penting agar kondisi tidak semakin parah.
Mobile JKN, Solusi di Tengah Musim Hujan
Di sisi lain, Dr. Haekal mengingatkan bahwa BPJS Kesehatan terus menghadirkan inovasi layanan digital untuk memudahkan peserta, terutama di musim hujan ketika mobilitas sering terkendala. Salah satu layanan andalan adalah aplikasi Mobile JKN.
Aplikasi ini memberikan kemudahan bagi peserta untuk mengakses berbagai layanan tanpa harus datang langsung ke kantor cabang BPJS Kesehatan. Salah satu fitur yang sangat bermanfaat adalah ambil antrian online, yang memungkinkan peserta mengambil nomor antrean di fasilitas kesehatan melalui ponsel pintar.
“Dengan fitur ambil antrian online, peserta bisa datang ke faskes sesuai jadwal, tanpa harus menunggu lama di ruang tunggu. Hal ini sangat relevan di musim hujan, karena peserta tidak perlu berlama-lama berada di tempat ramai yang berisiko penularan penyakit,” terang Dr. Haekal.
Selain itu, Mobile JKN juga menyediakan layanan cek status kepesertaan, ubah data, hingga konsultasi online di fasilitas kesehatan yang sudah bekerja sama.
Iwan Kurnia, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Sampit, turut menyampaikan bahwa pihak cabang berupaya keras memaksimalkan layanan digital agar masyarakat di wilayah Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Lamandau, dan Sukamara tetap terlayani dengan baik.
Iwan menegaskan bahwa di musim hujan, pihaknya mendorong lebih kuat penggunaan Mobile JKN dan fitur antrean online demi mengurangi beban antrean di fasilitas kesehatan dan meminimalkan paparan penyakit dalam ruang tunggu.
“Kami mengimbau masyarakat agar semakin aktif menggunakan Mobile JKN, terutama fitur antrean online. Ini bagian dari transformasi layanan agar lebih adaptif terhadap tantangan musim hujan,” kata Iwan Kurnia.
Ia menambahkan bahwa cabang Sampit juga aktif melakukan edukasi dan sosialisasi ke fasilitas kesehatan mitra agar mereka mendukung pelaksanaan antrean online, serta meningkatkan mutu pelayanan agar peserta merasa nyaman dan cepat dilayani.
Musim hujan memang penuh tantangan, tapi bukan alasan untuk kehilangan akses terhadap layanan kesehatan.
“Dengan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan dukungan layanan digital dari BPJS Kesehatan, di antaranya Mobile JKN dan fitur antrean online di harapkan beban layanan kesehatan dapat ditekan, dan angka penyakit musiman dapat diminimalkan,” bebernya.
Iwan Kurnia menutup dengan harapan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif, melainkan mitra aktif dalam menjaga sistem layanan. Menurutnya, kemajuan layanan kesehatan digital hanya akan maksimal jika masyarakat ikut memanfaatkannya dengan bijak dan konsisten.
“Kita ingin agar musim hujan bukan menjadi momok bagi masyarakat. Dengan kerjasama pengguna dan penyedia layanan, kita yakin bisa menjaga kesehatan masyarakat tetap prima meskipun cuaca tak menentu,” pungkas Iwan.(im/adv)












