Warga Bereng Pulpis Minta Solusi Bank Sampah, Harga Karet, dan Abrasi Sungai

IST/BERITA SAMPIT - Bank sampah.

– Sejumlah aspirasi masyarakat dari Kelurahan Bereng, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten , mengemuka dalam reses perorangan anggota DPRD (Kalteng) Dapil V beberapa waktu lalu. Persoalan ekonomi, infrastruktur, hingga lingkungan masih menjadi keluhan utama warga.

Juru bicara reses perorangan Dapil V, Helmi, menyampaikan bahwa bank sampah yang dibangun secara swadaya di Bereng tidak berjalan sesuai harapan.

“Bank sampah bukannya berkembang, justru mengalami kemunduran yang signifikan. Warga meminta solusi pengelolaan keuangan yang lebih baik,” kata Helmi saat membacakan laporan dalam rapat paripurna belum lama ini.

Selain itu, warga mempertanyakan kebijakan daerah terkait pembakaran lahan. Mereka khawatir aturan itu tidak menjamin peningkatan taraf ekonomi. “Saat ini, sebagian besar warga hanya mengandalkan penyadapan karet yang sangat dipengaruhi cuaca. Dengan adanya perda membolehkan membakar, mereka berharap bisa beralih bertani agar kesejahteraan meningkat. Karena itu, warga juga meminta bantuan bibit sawit,” ujar Helmi.

Di sisi lain, harga karet yang fluktuatif juga menekan masyarakat. “Mereka berharap pemerintah memberi perhatian serius agar ada peningkatan taraf hidup,” tutur Helmi. Masalah abrasi sungai yang menyebabkan rumah warga ambruk pun turut menjadi sorotan.

Keluhan serupa datang dari Sei Kayu, Kecamatan Barat, Kabupaten . Damang dan mantir adat setempat meminta perhatian berupa peningkatan insentif. Warga juga mengajukan bantuan bibit sawit dan menyoroti harga karet yang tidak stabil.

“Masyarakat Sei Kayu juga meminta arahan terkait program koperasi Merah Putih agar bisa dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, mereka mengusulkan rehap gereja dan melanjutkan pembangunan masjid di ,” kata Helmi.

Sementara itu, warga Sei Pitung berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan pembakaran lahan. Masyarakat nelayan meminta bantuan bibit ikan seperti patin, gurami, dan papuyu, serta bibit sapi dan kambing.

“Ada juga keluhan soal akses jalan. Jalan di RT 03 sangat sempit hingga ambulans tidak bisa masuk. Jika ada warga sakit atau meninggal, harus diangkut sejauh satu kilometer ke jalan poros. Mereka juga berharap ada pembangunan pelabuhan singgah atau penyeberangan feri,” kata Helmi menutup laporan resesnya.

(Syauqi)

baca juga ...  APBD Perubahan 2025: Belanja Rp8,3 Triliun Danai 219 Program - 683 Kegiatan dan 2.292 Subkegiatan
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!