SAMPIT – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Muhammad Irfansyah menegaskan, keberadaan sekolah unggulan maupun sekolah berafiliasi nasional di Kotim tidak akan menimbulkan kesenjangan pendidikan. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga prinsip kesetaraan agar seluruh anak memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan berkualitas.
Menurut Irfansyah, munculnya berbagai sekolah unggulan seperti Global School, Cindikia, Hang Ali, dan Pahan School menunjukkan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap mutu pendidikan di Kotim. Ia menyebut, masing-masing lembaga memiliki keunggulan tersendiri baik dalam metode pembelajaran maupun penguasaan bahasa asing.
“Kalau di Global School itu keunggulannya di bahasa Inggris. Berdasarkan pantauan kami, pembelajarannya bahkan melibatkan pengajar dari Singapura melalui sistem zoom meeting. Jadi konsepnya sudah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ),” jelasnya, Jumat 10 Oktober 2025.
Meski demikian, Irfansyah menegaskan bahwa semua sekolah, baik negeri maupun swasta, memiliki kedudukan yang sama sesuai Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Ia menambahkan, konsep sekolah unggulan atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) telah dihapus karena berpotensi menimbulkan ketimpangan dalam sistem pendidikan.
“Terkait isu ketimpangan, dalam undang-undang sudah ditegaskan bahwa sekolah unggulan seperti RSBI tidak boleh lagi diberlakukan. Pendidikan itu hak semua orang dan harus setara,” ujarnya.
Lebih lanjut, Irfansyah menyampaikan bahwa pemerintah tetap memberikan ruang bagi pihak swasta untuk mendirikan lembaga pendidikan dengan ciri khas tertentu selama sesuai ketentuan hukum dan tidak mengabaikan prinsip keadilan serta akses pendidikan bagi seluruh masyarakat.
“Kalau yang mendirikan itu swasta, silakan saja. Mau berbasis agama, teknologi, atau pertanian, itu sah-sah saja. Yang penting tetap dalam koridor aturan dan tidak menimbulkan diskriminasi,” tegasnya.
Ia menegaskan, peran pemerintah adalah mengakomodasi seluruh kebutuhan pendidikan masyarakat tanpa membeda-bedakan status sekolah. Dengan begitu, seluruh siswa di Kotim dapat menikmati pendidikan yang layak dan bermutu.
“Pemerintah hadir untuk mengakomodasi semua. Jangan sampai ada perbedaan antara yang disebut unggulan dan yang tidak. Esensi pendidikan adalah pemerataan, bukan perlombaan status,” tandasnya.
Irfansyah berharap keberadaan sekolah-sekolah unggulan di Kotim justru dapat menjadi motivasi bagi sekolah lain untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitasnya.
“Kita berharap semua sekolah di Kotim bisa saling melengkapi, bukan bersaing. Yang terpenting bagaimana pendidikan kita bisa mencetak generasi yang unggul dan berkarakter,” pungkasnya. (nardi)












