PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) meningkatkan status kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir di sejumlah wilayah.
Peningkatan curah hujan di bulan Oktober 2025 disebut sebagai dampak dari fenomena atmosfer global yang memengaruhi pola cuaca di Indonesia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalteng, Indra Wiratama, menjelaskan bahwa hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya pemanasan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia yang berada di atas kondisi normal.
Fenomena tersebut, dikombinasikan dengan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) negatif sebesar -1,11, menyebabkan pertumbuhan awan hujan meningkat secara signifikan di wilayah Kalimantan Tengah.
“Suhu muka laut yang lebih hangat memicu penguapan tinggi, sehingga pembentukan awan hujan meningkat. Dampaknya, intensitas hujan di Kalteng bagian tengah dan selatan diperkirakan cukup tinggi sepanjang Oktober hingga awal November,” jelas Indra di Palangka Raya, Minggu, 19 Oktober 2025.
Menurut Indra, daerah yang berpotensi terdampak banjir antara lain Kapuas, Pulang Pisau, Katingan bagian selatan, dan Sukamara.
Untuk mengantisipasi kemungkinan banjir di wilayah tersebut, BPBD Kalteng telah berkoordinasi dengan seluruh BPBD kabupaten/kota agar memperkuat sistem peringatan dini dan memastikan sarana komunikasi kebencanaan berfungsi optimal.
“Kami sudah menginstruksikan agar seluruh peralatan seperti sirine, kentongan, alat komunikasi radio, serta jaringan informasi daring dipastikan berfungsi baik. Jalur evakuasi dan titik pengungsian juga sedang diperiksa secara berkala,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan harian terhadap kondisi cuaca, sungai, dan wilayah rawan genangan.
Ia menyebut bahwa beberapa daerah seperti Kapuas dan Sukamara sudah mulai mengalami banjir lokal akibat curah hujan yang meningkat dalam dua pekan terakhir.
“Kami terus berkoordinasi dengan BMKG dan BPBD daerah. Kalau pun ada daerah yang tergenang, langkah mitigasi sudah disiapkan agar dampaknya tidak meluas,” ungkap Toyib.
Toyib menegaskan, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menekan dampak bencana di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Ia meminta seluruh kepala daerah melalui BPBD masing-masing untuk memastikan petugas siaga 24 jam, terutama di wilayah dengan topografi rendah yang rawan tergenang.
“Kesiapsiagaan dan kecepatan respon adalah kunci. Kita tidak bisa mencegah hujan, tapi kita bisa meminimalkan dampaknya melalui koordinasi dan kesiapan sejak dini,” ujarnya.
Selain memperkuat sistem pengawasan, BPBD Kalteng juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan agar banjir dapat dicegah sejak dari hulu.
“Kami mengajak warga agar tidak membuang sampah ke sungai dan rutin membersihkan saluran air. Masyarakat juga perlu menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, dan kebutuhan darurat lainnya,” tutur Indra.
Pihak BPBD juga mengingatkan bahwa masa peralihan menuju puncak musim hujan biasanya ditandai dengan curah hujan yang tidak merata dan berpotensi menimbulkan genangan di daerah tertentu.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat menjadi hal yang penting untuk memastikan keselamatan bersama.
“Kami ingin memastikan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya di tingkat pemerintah, tapi juga di tingkat keluarga dan komunitas. Kesadaran masyarakat adalah bagian dari mitigasi yang paling efektif,” pungkas Indra.
(Sya'ban)












