SAMPIT – Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati bersama Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotim Wim RK Benung meninjau Pulau Hanibung di Kecamatan Kota Besi, Kamis 23 Oktober 2025 lalu. Kunjungan ini juga diikuti perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kotim.
Irawati mengatakan, Pulau Hanibung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam sekaligus kawasan konservasi satwa. Ia berharap rencana tersebut mampu menjadi daya tarik baru sektor pariwisata Kotim dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Pulau Hanibung ini sangat potensial, selain keindahan alamnya, lokasinya juga strategis. Harapan kami kawasan ini dapat menjadi ikon ekowisata baru sekaligus mendukung konservasi satwa di Kotim,” kata Irawati, Jumat 24 Oktober 2025.
Pemerintah Kabupaten Kotim menetapkan Pulau Hanibung sebagai salah satu prioritas pembangunan jangka menengah daerah periode 2025–2029. Kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai lokasi konservasi satwa sekaligus wisata edukatif berbasis alam.
Kepala Bapperida Kotim, Alang Arianto, menjelaskan bahwa tahapan awal pengembangan kawasan ini telah dimulai dengan pembentukan tim lintas organisasi perangkat daerah (OPD). “Pulau Hanibung ini masuk dalam lima tahun ke depan sebagai kawasan prioritas. Tim sudah kita bentuk, dan pada 2026 nanti kita akan menyusun DED (Detail Engineering Design) serta set plan-nya,” ujar Alang.
Ia menambahkan, status lahan Pulau Hanibung yang merupakan Areal Penggunaan Lain (APL) memungkinkan pemerintah daerah mengelolanya tanpa hambatan kepemilikan. Namun, aspek perizinan tetap diperhatikan, terutama untuk satwa yang akan ditempatkan di area konservasi.
“Yang perlu perizinan khusus itu satwa seperti orangutan dan buaya. Karena menyangkut penangkaran, maka izinnya harus lengkap,” jelas Alang.
Dalam pengembangannya, tidak ada ganti rugi lahan karena pemerintah bekerja sama dengan masyarakat pemilik lahan di Desa Camba. Rencana ini juga sejalan dengan 14 program prioritas Bupati Kotim dan mendapat dukungan penuh dari warga setempat.
“Rencana ini juga menjadi solusi konflik satwa dan manusia. Misalnya buaya atau orangutan yang masuk permukiman, bisa direlokasi ke Pulau Hanibung,” ungkapnya.
Selain menjadi kawasan konservasi, Pulau Hanibung juga diharapkan memberi dampak ekonomi melalui wisata berbasis komunitas. Pemerintah membuka kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk berpartisipasi dalam pembangunan fasilitas wisata.
“Contohnya seperti Pulau Kaja di Palangka Raya. Orang datang naik klotok, masyarakat ikut terlibat. Kita ingin seperti itu juga, ada pokdarwis dan efek ekonomi berantai bagi warga,” tutup Alang. (nardi)












