
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menginstruksikan seluruh jajajaran dinas pertanian di tingkat provinsi dan kabupaten, seluruh Indonesia untuk segera mengimplementasikan program percepatan swasembada pangan secara konkret. Instruksi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat untuk mencapai target swasembada pangan dalam waktu singkat dan mengatasi ancaman krisis pangan global. Hal ini diperintahkan oleh Presiden Prabowo Sugianto yang intinya agar warga masyarakat di seluruh Indonesia sejahtera.
Namun melihat perkembangan pertanian di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), pengamatan penulis masih cenderung ‘lambat‘, karena jumlah penduduk Kabupaten Kobar sedikit. Hal ini terlihat saat usai panen padi, jagung termasuk panen palawija, sayur mayur disalah satu Desa agak sullit berkelanjutan?. Bahkan dari ‘bocoran' warga setempat, kalau disalah satu Desa ada sejumlah warga yang menanam padi, sampai subur dan menguning serta siap dipanen terkadang sulit untuk mencari buruh petani.
Kemudian warga Desa juga sering bingung, karena banyak instruksi dari kadesnya, harus begini, begitu, sementara para petani yang hidupnya dari pertanian harus banting tulang mencari tambahan.
“Ini Pak, nunggu panen padi atau jagung kan bukan seminggu dua minggu tapi pulnya sampai 5 bulan lah baru padi bisa dimakan,“ keluh salah seorang petani di Desa Purbasari Kecamatan Arsel kepada penulis.
Akibat para petani banyak pekerjaan bercabang mulai dari ternak ayam, budi daya ikan keramba, akibatnya banyak Alsintan yang didistribusikan dari dua Anggota DPR RI Perwakilan Kalteng yang asli warga Pangkalan Bun, Mukhtarudin dan Bambang Purwanto, sejak tahun 2021, 2022, 2023 hingga 2024 seperti Traktor tangan roda dua, untuk membantu proses pengolahan tanah. Hand sprayer, untuk membantu proses penyemprotan pestisida atau pupuk. Pompa air, untuk membantu proses irigasi atau pengairan tanaman. Dan semua Alsintan tersebut, tujuannya untuk mendukung atau membantu para kontak tani percepatan mengolah tanah dan tanam berbagai komoditas pertanian, namun sampai sekarang informasinya, jarang dimanfaatkan oleh para anggota kelompok tani.
Memang diakui oleh penulis, program Dinas Pertanian cukup menggembirakan bagi sebagian para petani, khususnya para petani binaan Dispertan melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Baru Mandiri di Desa Kubu Kecamatan Kumai. Saat Kabupaten Kobar masih dijabat Pj Bupati Budi Santosa banyak inovasi Dispertan yang membuahkan hasil, yakni Panen Buah Melon di Desa Kubu Kecamatan Kumai. Namun, pertanian buah Melon tidak berkelanjutan, termasuk Panen Padi juga sama tidak berkelanjutan persawahannya.
Dari sekitar 98 Desa/Kelurahan, hanya beberapa Desa yang cenderung panen padinya berkelanjutan karena lahan padinya dekat dengan sumber air, seperti di Desa Merambai Kecamatan Pangkalan Banteng dekat dengan danau buatan/embung.
Jadi pengamatan penulis, kenapa pengembangan pertanian cenderung masih monoton (lari ditempat)?. Karena kalau dilihat dari luas wilayah Kabupaten Kobar sekitar 10.759.00 m2 boleh dikatakan luas wilayahnya sama dengan satu setengan Wilayah Provinsi Jawa Timur. Sementara jumlah penduduk Kabupaten Kobar hampir sama dengan 1 Kecamatan di DKI Jakarta, contoh Kecamatan Keramat Jati mencapat 316.949 jiwa ( tahun 2024 ).
Jadi, kalau ada lahan persawahan yang siap panen di salah satu Desa di Kabupaten Kobar tanaman padinya menua telat dipanen, lantaran sulit mencari orang. Dan juga, kenapa pasca panen padi jarang yang berkelanjutan juga sama karena para petaninya memiliki berbagai cabang pekerjaan dan sulit mencari petani upahan.
Agar swasembada pangan yang digaungkan Presiden Prabowo sukses menuju Indonesia Emas, pengamatan penulis, Menpan RI Andi Arman Sulaeman dapat bekerjasama dengan Menteri Transmigrasi Harta Iftitah memprogramkan khusus mendatangkan masyarakat yang sudah ikut pelatihan dan mapan tentang berbagai pertanian, ditransmigrasi kebeberapa provinsi seperti Kalimantan, Sumatera, Maluku, NTB, dan Papua.
Jujur saja, skil/tenaga manusia salah satu penggerak berbagai program pekerjaan. Kemudian untuk mengembangkan program swasembada pangan, pengamatan penulis bisa melibatkan Koperasi Merah Putih (KMP) diberi lahan oleh Desa untuk dijadikan Demplot (Pertanian percontohan) yang sekaligus hasil panennya bisa dijual oleh Koperasi.
Tanpa manusia program tidak akan berjalan. Contoh kecil, kita mendengar pengumuman dari corong Masjid, “Bapak-bapak sekarang hari Minggu, jam 9.00 pagi mari kita semua membangun Pos Kamling “, kata pak RT. (Karena, di salahsatu Perumahan banyak warganya, Pos Kamling tidak sampai sehari selesai), justru tetangga RT sebelah yang bukan perumahan, karena warganya kurang banyak bangun Pos Kamling 3 hari baru selesai.
Termasuk, “Kajian Pengembangan Food Estate“ di Kabupaten Kobar yang disusun Tim khusus dari Bappeda Kobar di Surabaya Tahun 2023, sebanyak 245 halaman, sampai sekarang belum ada realisasinya. Padahal menyusun Kajian Pengembangan Food Estate, bukan kalengan tapi menggunakan anggaran. (*)












