PALANGKA RAYA – Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Herson B. Aden, menegaskan bahwa penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang layak merupakan langkah strategis dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Hal itu disampaikannya saat membuka Workshop Bidang Air Minum dan Sanitasi Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2025, yang digelar secara hybrid di Aula Bapperida Provinsi Kalteng, Rabu, 5 November 2025.
Dalam sambutannya, Herson menekankan bahwa sanitasi dan kesehatan memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa dipisahkan. Akses terhadap air bersih, sistem pembuangan limbah yang baik, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan fondasi utama untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif.
“Tanpa ketersediaan air minum dan sanitasi yang aman, anak-anak menjadi lebih rentan terhadap stunting. Karena itu, peningkatan layanan air bersih dan sanitasi harus menjadi prioritas bersama,” ujar Herson.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan rencana kerja terukur dengan indikator yang jelas untuk memperluas akses air minum dan sanitasi aman di seluruh wilayah Kalimantan Tengah. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek teknis, kelembagaan, dan partisipasi masyarakat.
Herson menyebutkan, komitmen tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) dan arah kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, yang menargetkan 40,2 persen rumah tangga perkotaan memiliki akses air siap minum perpipaan dan 30 persen rumah tangga memiliki akses sanitasi aman pada tahun 2029.
Selain itu, RPJMN juga menargetkan 85 persen rumah tangga memiliki layanan penuh pengumpulan sampah dan 38 persen timbulan sampah dapat diolah di fasilitas pengolahan.
Di tingkat daerah, RPJMD Kalimantan Tengah 2025-2029 menetapkan target yang mendukung upaya tersebut, termasuk peningkatan akses air minum perpipaan hingga 50 persen rumah tangga perkotaan dan akses sanitasi aman mencapai 20 persen rumah tangga.
“Kita perlu memastikan bahwa setiap kebijakan dan program pembangunan benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, terutama generasi muda,” tambahnya.
Herson juga menegaskan bahwa perbaikan sanitasi bukan hanya urusan teknis, melainkan perubahan perilaku masyarakat. Edukasi tentang kebersihan lingkungan, pengelolaan limbah rumah tangga, dan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun perlu terus digencarkan di semua lapisan masyarakat.
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya penguatan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, termasuk peran sektor swasta dalam mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi.
“Kunci keberhasilan program ini ada pada kesadaran kolektif. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, semua pihak harus terlibat agar hasilnya berkelanjutan,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Herson mengajak seluruh pihak untuk menjadikan pembangunan sektor air minum dan sanitasi sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing.
“Visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana kita menciptakan generasi yang tumbuh sehat dan berkualitas. Itu semua berawal dari air bersih dan sanitasi yang layak,” pungkasnya.
(Sya'ban)












