PALANGKA RAYA – Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) Sutik, menyoroti tingginya biaya produksi yang harus ditanggung petani di wilayah Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Ia menyebut buruknya akses jalan menuju lahan pertanian membuat distribusi pupuk dan bibit menjadi jauh lebih mahal dari seharusnya.
Menurut Sutik, hingga kini akses darat menuju area persawahan belum bisa dilewati kendaraan roda empat. Petani terpaksa memanfaatkan jalur sungai menggunakan kelotok, kapal kecil yang hanya mampu mengangkut barang dalam jumlah terbatas.
“Keluhan petani, cuma jalan menuju lokasi sawah memang belum bisa dilalui roda empat. Jadi ngangkut pupuk dan bibit ke sana itu lewat kelotok, kapal kecil,” ujar Sutik, Minggu, 16 November 2026.
Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat biaya logistik melonjak. Selain waktu tempuh lebih lama, kapasitas angkut kelotok yang terbatas memaksa petani melakukan perjalanan berkali-kali.
“Makanya biayanya besar, karena jalan belum ada. Lewat kelotok muatnya nggak bisa banyak,” katanya.
Sutik mendorong pemerintah daerah memperhatikan persoalan akses tersebut, mengingat peningkatan produksi pangan tak akan tercapai jika infrastruktur dasar masih terabaikan. Ia menilai penyediaan jalan yang layak menuju sentra pertanian merupakan kebutuhan mendesak bagi petani di Kotim.
(Syauqi)












