PALANGKA RAYA – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Tengah (Kalteng) menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) untuk memformulasikan langkah strategis dalam menghadapi tantangan dan memperkuat resistensi terhadap perampasan hak-hak adat.
Mengusung tema “Memperkuat Internal dan Resistensi Berbasis Tenaga Dalam Masyarakat Adat”, Rakerwil ini berlangsung selama dua hari, mulai 18 hingga 19 November 2025, di Asrama Haji, Palangka Raya. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Pengurus Daerah (PD) AMAN se-Kalteng, termasuk Ketua Pelaksana Harian Daerah (PHD) dan Dewan AMAN Daerah (DAMANDA).
Penjabat (Pj) Ketua AMAN Kalteng, Yoga Adi Saputra, menekankan pentingnya penguatan organisasi untuk pelayanan maksimal terhadap 12 pengurus daerah aktif, satu pengurus wilayah dan menaungi 343 komunitas anggota. Jumlah ini menjadikan AMAN yang terbesar di dunia.
“AMAN perlu memperkuat organisasi karena masih banyak program yang belum terlaksana. Pelayanan terhadap komunitas adalah yang terpenting, dan penguatan organisasi adalah pelayanan dasar,” kata Yoga.
Yoga juga menegaskan pentingnya kesiapan untuk melakukan perlawanan (resistensi) terhadap pihak-pihak yang ingin mengambil hak masyarakat adat.
“Kita perlu mengarahkan tenaga dan semangat kita untuk memulai resistensi. Melawan siapa? Melawan orang atau pihak yang ingin mengambil hak kita sebagai masyarakat adat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan AMAN Wilayah (DAMANWIL), Isang, secara resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Isang menegaskan bahwa hak masyarakat adat atas wilayah adat bukanlah hak pemberian dari negara, melainkan hak bawaan yang melekat pada diri masyarakat adat.
“Hak adat itu tidak akan pernah hilang atau punah, kecuali masyarakat adat itu sendiri punah. Untuk menjaga eksistensi maka yang harus diperkuat adalah kerja sama tim. Melalui Rakerwil ini, kami menekankan pentingnya penguatan internal organisasi dan sinergi program untuk menyambut tantangan ke depan,” ujar Isang.
Ketua Panitia Rakerwil AMAN, Wanda Franata, menjelaskan, rapat ini akan membahas sejumlah agenda penting, diawali dengan laporan organisasi dari masing-masing PD di Kalteng. Laporan tersebut mencakup perkembangan pembentukan Kelompok Usaha Milik Masyarakat Adat (KUMA), Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMA), serta Sekolah Adat di wilayah masing-masing.
Agenda kemudian berlanjut dengan laporan perkembangan organisasi PW AMAN Kalteng, pembahasan laporan penyelenggaraan organisasi, sikap politik organisasi, dan penyusunan rekomendasi.
Rangkaian Rakerwil ini akan ditutup dengan Diskusi Publik pada tanggal 20 November 2025.
(Syauqi)












