PANGKALAN BUN – Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) turut berpartisipasi dalam Webinar Hasil Pemantauan Hama dan Penyakit Hewan Karantina Regional Kalimantan 2025 yang diselenggarakan secara daring pada Selasa 18 Nopember 2025 di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Kegiatan ini merupakan agenda penting dalam upaya penguatan sistem peringatan dini sekaligus pemutakhiran data pemantauan penyakit hewan karantina di seluruh wilayah Kalimantan.
Webinar yang digagas Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBKHIT) Kalimantan Timur ini diikuti oleh perwakilan Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota se-Kalimantan, Badan Karantina Pertanian, Balai Besar Veteriner Banjarbaru dan Balai Besar Veteriner Bali, akademisi/BRIN, serta para pemangku kepentingan sektor .
Kegiatan ini menitikberatkan pada penyampaian hasil pemantauan penyakit strategis khususnya Diare Virus Bovine (BVD), termasuk penyakit lainnya seperti Flu Burung (AI), Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Rabies, Penyakit Kulit Berbenjol (ISK) dan HPHK lainnya yang berpotensi menyebar lintas wilayah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Hewan dan Kesmavet, drh. GM Sofyannoor, menjelaskan, Kabupaten Kotawaringin Barat akan menjadi salah satu lokus pengawasan HPHK pada tahun 2023 hingga 2025 mengingat Kobar merupakan daerah tujuan dan transit lalu lintas hewan antar pulau, terutama dari Pulau Jawa dan Bali yang masuk ke Pulau Kalimantan.
“Kegiatan surveilans tidak hanya bermanfaat untuk deteksi dini dan pemetaan penyebaran penyakit, tetapi juga sebagai langkah mitigasi dalam upaya pengendalian penyakit hewan menular yang berpotensi menyebabkan kematian ternak milik masyarakat di Kobar,” jelas Sofyan.
Juga.Haryo Prabowo menegaskan, keikutsertaan dalam webinar ini sangat bermanfaat untuk memperbarui informasi, memahami potensi risiko penyakit, serta memperkuat koordinasi dengan seluruh daerah di Kalimantan.
“Kerja sama regional menjadi kunci dalam pengendalian penyakit hewan yang dapat berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat, produktivitas ternak, dan perekonomian daerah,” ujar Haryo.
Webinar tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi bersama, seperti peningkatan integrasi sistem data pemantauan antardaerah, penguatan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium, harmonisasi langkah-langkah pemantauan lalu lintas hewan, serta peningkatan peran masyarakat dan pelaku usaha dalam penerapan biosekuriti.
Distan Kobar berharap kegiatan ini dapat meningkatkan sinergi antar instansi dan memperkuat ketahanan kesehatan hewan di wilayah Kalimantan, sehingga sektor peternakan dapat tumbuh secara sehat, aman, dan berkelanjutan. (man)












