SAMPIT – Di usia 22 tahun, Titi Laras Sita harus menghadapi situasi yang tidak mudah. Ia didiagnosis memiliki benjolan pada jaringan tubuhnya yang mengharuskannya menjalani tindakan operasi di RSUD dr. Murjani Sampit.
Meski sempat diliputi rasa takut, terutama karena membayangkan biaya operasi yang besar, Titi akhirnya dapat menjalani seluruh proses pengobatan dengan tenang berkat kepesertaannya di BPJS Kesehatan.
Sejak kecil, Titi telah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui jalur peserta tanggungan orang tua sebagai PNS dan baru-baru ini beralih segmen ke mandiri kelas 2 saat ia dewasa sebagai bentuk proteksi jangka panjang apabila sewaktu-waktu diperlukan dan benar saja, kepesertaan tersebut menjadi penopang penting ketika ia harus menghadapi kondisi kesehatannya beberapa tahun yang lalu.
Berawal dari keluhan kesehatan yang ia rasakan sendiri, Titi memutuskan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, puskesmas memberikan rujukan ke RSUD dr. Murjani untuk penanganan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan rumah sakit, dokter menyarankan agar Titi segera menjalani operasi pengangkatan tumor.
“Jujur, awalnya saya sangat takut. Yang terbayang hanya biaya operasi yang pasti mahal, bisa jutaan. Tapi setelah diproses menggunakan BPJS Kesehatan, semuanya ditanggung. Saya benar-benar merasa sangat terbantu,” kata Titi sembari mengenang momen tersebut.
Ditemani keluarga, Titi menjalani seluruh rangkaian tindakan medis tanpa harus memikirkan biaya tambahan. Mulai dari pemeriksaan, administrasi rumah sakit, tindakan operasi, hingga pengambilan obat pascaoperasi, seluruhnya dapat ia akses melalui BPJS Kesehatan.
Menurutnya, pelayanan yang ia terima berjalan lancar dan tidak berbelit.Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sampit, Iwan Kurnia, menegaskan bahwa pengalaman Titi merupakan gambaran nyata bahwa Program JKN hadir untuk memberikan kepastian layanan tanpa hambatan biaya.
“Kasus seperti yang dialami Titi menunjukkan pentingnya memiliki jaminan kesehatan sejak dini. BPJS Kesehatan memastikan peserta dapat fokus pada pemulihan, bukan pada biaya. Kami ingin masyarakat merasa tenang karena tahu bahwa ketika membutuhkan layanan kesehatan, negara hadir melalui JKN,” ujar Iwan.
Baginya, pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa BPJS Kesehatan memegang peran penting dalam memberikan kepastian layanan kesehatan bagi masyarakat.
“BPJS Kesehatan sudah sangat memudahkan masyarakat seperti saya. Semua prosesnya jelas, tertata, dan sangat membantu. Saya berharap ke depan cakupannya bisa semakin meluas agar lebih banyak orang merasakan manfaat yang sama,” ujar Titi.
Kisah Titi menegaskan kembali tujuan hadirnya Program JKN: memastikan bahwa setiap warga negara memperoleh perlindungan kesehatan tanpa terhalang biaya.
Di tengah kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat, pengalaman seperti yang dialami Titi menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan tetap menjadi tumpuan masyarakat dalam menghadapi risiko kesehatan yang tak terduga.(im/adv)












