Seribu Pelajar Mainkan Kecapi dan Karungut, Catat Rekor MURI dan Canangkan Penggunaan Lawung di Sekolah

DENNY/BERITASAMPIT - catatkan Rekor MURI, Seribu Peserta SD hingga SMA Mainkan Kecapi dan Karungut.

KUALA – Di bawah rintik hujan yang tak menyurutkan semangat, Pemerintah Kabupaten mencatat sejarah baru dalam pelestarian budaya Dayak. Sebanyak seribu peserta didik dari jenjang SD hingga SMA memainkan kecapi sambil bersenandung karungut di Rumah Betang Maggatang Utus, Kelurahan Sei Pasah, Kecamatan Hilir. Atraksi budaya masif tersebut resmi tercatat sebagai Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Tak hanya itu, Pemkab juga mencanangkan penggunaan Lawung/Sumping di sekolah pada hari-hari tertentu sebagai langkah penguatan karakter berbasis budaya lokal.

Acara monumental ini dihadiri Plt Sekretaris Daerah Provinsi Leonard S. Ampung mewakili Gubernur Kalteng, Bupati HM Wiyatno, Wakil Bupati Dodo, Sekda Usis I Sangkai, unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, Ketua TP-PKK Ny. Hj. Siti Saniah Wiyatno, para pimpinan organisasi wanita, serta Damang Adat dari 17 kecamatan se-Kabupaten .

Bupati HM Wiyatno, Selasa 9 Desember 2025, menegaskan bahwa rekor MURI hanyalah gerbang, sementara tujuan sejatinya adalah membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya Dayak. Ia menilai kecapi dan karungut bukan sekadar seni, tetapi sarana pendidikan yang membentuk karakter masyarakat sejak masa leluhur.

“Ini tentang jati diri. Hari ini generasi muda memainkan kecapi dan melantunkan karungut sebagai bentuk penghormatan pada warisan besar yang harus terus hidup,” ujarnya.

Bupati juga menekankan pentingnya nilai Huma Betang, Handep, Hapakat dan Hinting Pali, yang menurutnya relevan dengan dunia pendidikan modern dan mesti diwariskan kepada peserta didik. Ia sekaligus meresmikan pencanangan penggunaan Lawung/Sumping di lingkungan sekolah sebagai simbol penguatan karakter berbasis budaya Dayak.

Sementara itu, melalui sambutan yang dibacakan Plt Sekda Kalteng Leonard S. Ampung, Gubernur Kalteng menyampaikan apresiasi tinggi atas inovasi Kabupaten . Ia menegaskan bahwa rekor MURI bukan tujuan utama, melainkan cara untuk menanamkan rasa bangga terhadap budaya Dayak kepada para pelajar. Leonard bahkan mendorong agar pemanfaatan atribut budaya seperti lawung, sumping, hingga duri salamean dapat mendorong pertumbuhan industri kreatif daerah.

baca juga ...  Sipbeh Satpol PP Kapuas, Inovasi Digital Trantibum Diakui Nasional

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas di tengah pesatnya arus globalisasi. “Anak-anak kita jangan sampai kehilangan jati diri. Mereka adalah pemimpin masa depan, dan nilai-nilai luhur budaya Dayak harus terus melekat dalam diri mereka,” tegasnya.

Leonard menyampaikan pesan khusus bagi pelajar agar berani bermimpi, menjunjung tinggi adab, dan menjauhi pengaruh pergaulan bebas serta narkoba. Setelah itu, ia secara resmi menyatakan dimulainya pencatatan Rekor MURI dan penggunaan Lawung/Sumping di sekolah.

Perhelatan budaya yang menggugah ini menjadi bukti komitmen Pemkab menjaga warisan leluhur. Selain mencatatkan rekor , kegiatan ini juga menghidupkan kembali kebanggaan generasi muda pada identitas Dayak, memperkuat pendidikan karakter, dan memperluas peran budaya dalam ruang belajar. Pemerintah berharap gerakan ini berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga kekayaan budaya Nusantara. (ds)

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!