SAMPIT – Nasib memprihatinkan dialami seorang lansia bernama M Zaini (78), warga Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Selama dua tahun terakhir, ia terpaksa tinggal di rumah yang rusak parah dengan atap daun nipah yang sudah runtuh, bahkan terancam terdampak pasang air laut.
Kondisi tersebut akhirnya menarik perhatian Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Abdul Hafid, yang langsung turun ke lokasi pada Sabtu 24 Januari 2026, untuk melihat langsung keadaan Zaini.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengaku mengetahui kondisi Zaini dari unggahan media sosial warga. Setelah memastikan kebenarannya kepada perangkat desa, ia segera melakukan kunjungan lapangan.
“Kebetulan saya ada di Kota Sampit jadi saya langsung meninjau kesini,” kata Hafid.
Ia menambahkan kondisi yang dialami Zaini harus menjadi perhatian pemerintah. Oleh karena itu, Hafid berupaya membantu dengan mengajukan program bedah rumah untuk lansia tersebut.
“Melihat kondisi seperti sekarang ini pemerintah harus turun tangan. Mestinya ini harus menjadi perhatian pemerintah. Ini hak saudara sebagai masyarakat. Saya hanya membantu, kita upayakan tahun ini agar bisa dibantu oleh negara,” ucapnya.
Dalam kunjungannya, Hafid turut mengumpulkan dokumen administrasi berupa Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Zaini untuk segera diproses. Bahkan, di lokasi ia langsung menghubungi Kepala Bidang Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Provinsi Kalteng, Tantolo Rawuh.
“Kita upayakan tahun ini juga,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Tantolo menyatakan kesediaannya untuk memproses permohonan tersebut agar segera dapat direalisasikan. “Iya. Kita akan masukan,” ungkap Tantolo.
Sementara itu, pihak desa setempat menyatakan telah memberikan bantuan sosial berupa PKH kepada M. Zaini untuk meringankan beban hidup keluarganya. Kehadiran anggota DPRD diharapkan dapat mempercepat realisasi bantuan perbaikan rumah bagi warga sepuh yang hidup dalam keterbatasan ini.
Diberitakan sebelumnya, M Zaini tinggal bersama sang istri yang berusia 68 tahun di rumah beratapkan daun nipah yang ambruk sejak dua tahun lalu akibat kayu penyangga yang lapuk. Di usia senja, ia mengaku sudah tidak mampu lagi bekerja apalagi memperbaiki rumahnya sendiri.
“Patah sudah 2 tahun. Karena kayu yang lapuk akhirnya atap runtuh. Saya sudah tua tidak bisa membenarkan dan tidak ada biaya,” pungkasnya.
(Utomo)












