Penulis: Taufiq Fatoni (Jurnalis Senior di Cirebon)
Pada akhir abad ke-19 hiduplah seorang tokoh keturunan Cina di Kota Cirebon bernama Tan Tjin Kie. Pada zamannya ia adalah seorang konglomerat pemilik pabrik gula.
Karena ketokohannya ia pun diangkat oleh pemerintah penjajah Belanda untuk menjabat sebagai Kapten Cina (semacam kepala suku bagi komunitas lokal keturunan Cina di Wilayah Cirebon), Sampai kemudian ia pun dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor sampai akhir hayat.
Semasa hidupnya Tan Tjin Kie konon dikenal sebagai seorang yang dermawan. Salah satu jasanya yang masih bisa dilihat sampai saat ini adalah Rumah Sakit Oranye yang sekarang berganti nama menjadi Rumah Sakit Gunung Jati, dan vila tempat peristirahatannya di Jl. Sisingamangaraja yang hibahkan untuk pembangunan sekolah Santa Maria.
Kendati demikian nama besar Tan Tjin Kie sudah tidak lagi dikenal oleh generasi muda di era sekarang ini. Mungkin karena itulah Mesti (Majelis Seni dan Budaya) Cirebon berusaha menginisiasi menggelar acara untuk mengenang kembali sosok Tan Tjin Kie. Acara yang berlangsung Sabtu, 24 Januari 2026 dan bertempat di Pendopo Bupati Cirebon menghadirkan pembicara budayawan keturunan Cina Jeremi Huang dan Endang Kusumasari dari Founder Cheribon Golden Heritage.
Bagi penulis sendiri, jika kita membicarakan sosok Tan Tjin Kie berarti kita juga sedang membicarakan bangsa Cina yang menjadi imigran di Indonesia.
Dan kalau kita melihat sejarahnya, bangsa Cina itu rupanya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi salah satu bangsa di dunia yg paling intens bersentuhan dengan bangsa pribumi di Nusantara (yang sekarang bernama Indonesia), sehingga hampir dalam setiap episode perjalanan sejarah bangsa Indonesia, selalu saja nama Cina itu ikut tampil tercatat di dalamnya. Baik dalam catatan hitam yang menggoreskan rasa dendam di kalangan pribumi, maupun peran positif dan kemitraannya yang sangat mengesankan dengan bangsa pribumi.
Misalnya saja kalau kita menengok sejarah yang jauh ke belakang, bahkan ketika kita berbicara tentang asal-usul bangsa Indonesia, maka dalam buku “Babad Tanah Jawi” disebutkan: Dahulu kala, ketika Kepulauan Nusantara ini masih kosong melompong, masih berupa hutan belantara yang belum ada penghuninya, orang-orang dari daratan Cinalah yang pertama kali datang dan bertempat tinggal di sini.
Setelah ribuan tahun kemudian datang lagi orang-orang dari India. Dan gelombang terakhir adalah kedatangan orang-orang dari negeri Arab. Mereka semua itu datang dalam jumlah rombongan yang sangat besar dan beranak-pinak di bumi Nusantara.
Selanjutnya, dalam sejarah Walisongo yang merupakan babak baru dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, sejumlah nama Cina juga ikut tercatat didalamnya. Bahkan Sunan Gunung Jati sendiri menikahi salah satu putri dari negeri Cina yang bernama Ong Tien Nio.
Dan pada zaman penjajahan Belanda sampai masa revolusi kemerdekaan Indonesia, sejarah juga mencatat sejumlah peranan dari sebagian komunitas Cina yang ada di Indonesia.
Sayangnya, dalam penggalan sejarah yang terakhir inilah justru terdapat sejumlah catatan hitam yang dapat mencederai citra dari komunitas Cina di mata bangsa pribumi. Misalnya saja, dari penelitian Rafles yang dikutip peneliti sejarah Batara Hutagalung. Di situ diisebutkan, ketika bangsa pribumi diperjual-belikan sebagai budak di negerinya sendiri, toko-toko milik Cina justru berperan sebagai tempat untuk bertransaksi.
Catatan hitam lainnnya bahkan ditorehkan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Adalah Pao An Tui, milisi bersenjata yang dibentuk oleh komunitas Cina di Medan, yang kemudian berpihak kepada Belanda dan ikut berperang melawan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dalam gambar besar sejarah yang seperti itu, membicarakan sosok Mayor Tan Tjin Kie menjadi menarik. Karena sebagai seorang konglomerat, pemilik pabrik gula yang kaya raya, beliau juga digambarkan sebagai pribadi yang filantropis, humanis dan dalam perjalanan hidupnya berjuang membangun harmoni sosial di Wilayah Cirebon.
Padahal dalam kedudukannya sebagai Kapten Cina yg ditunjuk Belanda, beliau secara formal adalah kepanjangan tangan dari penjajah. Sama seperti Kapten Arab atau bupati dan bahkan raja-raja yang bertahta pada saat itu, pada hakekatnya semuanya adalah kepanjangan tangan dari penjajah Belanda. Karena siapa pun yang melawan Belanda, seperti Pangeran Diponegoro misalnya, pasti akan ditangkap dan dibuang ke tempat pengasingan.
Itulah keistimewaan yang dimiliki Tan Tjin Kie, sosok yang sekarang ini boleh dibilang sudah menjadi barang langka. Citra agung yang ditenggelamkan oleh rumor ‘Sembilan Naga’ dan isu-isu negatif tentang perilaku oknum peranakan Cina lainnya. Oleh karena itu pula Tan Tjin Kie adalah sosok yang patut diteladani. Terutama oleh keturunan peranakan Cina sendiri dan juga pribumi. Dan semoga pula, setelah acara di Pendopo Bupati itu kelak akan muncul lebih banyak lagi Tan Tjin Kie yang lain di Wilayah Cirebon.(*)












