PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memetakan sebanyak 84 kecamatan sebagai wilayah dengan tingkat risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemetaan tersebut mengacu pada Peta Risiko Bencana Karhutla dalam dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB).
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalteng, Indra Wiratama, menyampaikan bahwa kecamatan-kecamatan dengan risiko tinggi karhutla itu tersebar hampir merata di kabupaten dan kota se-Kalteng, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
“Sebagian besar wilayah di Kalteng memiliki kecamatan dengan tingkat risiko tinggi. Namun, Kapuas dan Kotim menjadi daerah dengan jumlah terbanyak,” ujar Indra dalam keterangannya, Senin, 26 Januari 2026.
Ia menerangkan, klasifikasi risiko karhutla dalam KRB ditentukan melalui sejumlah indikator, meliputi tingkat ancaman bencana, kerentanan wilayah, serta kemampuan daerah dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan bencana.
“Risiko tinggi berarti potensi kebakaran besar, tingkat kerentanan juga tinggi, sementara kapasitas penanganan masih terbatas sehingga perlu diperkuat,” terangnya.
Dalam peta risiko tersebut, 84 kecamatan rawan karhutla itu tersebar di 12 kabupaten/kota, yakni Barito Selatan (5 kecamatan), Barito Timur (8), Barito Utara (4), Gunung Mas (2), Pulang Pisau (7), Kapuas (14), Kotawaringin Timur (14), Kotawaringin Barat (6), Katingan (8), Seruyan (7), Sukamara (5), serta Kota Palangka Raya (4 kecamatan).
Adapun Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Lamandau tidak tercatat memiliki kecamatan dengan kategori risiko tinggi karhutla. Murung Raya memiliki 10 kecamatan dengan risiko rendah, sementara Lamandau memiliki 8 kecamatan dengan risiko sedang.
Secara keseluruhan, hasil pemetaan BPBD Kalteng menunjukkan terdapat 35 kecamatan dengan risiko rendah, 17 kecamatan berisiko sedang, dan 84 kecamatan berisiko tinggi karhutla di Kalimantan Tengah.
Indra menambahkan, faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama tingginya risiko karhutla di sejumlah wilayah, khususnya daerah yang didominasi oleh lahan gambut.
“Wilayah bergambut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran, terutama saat memasuki musim kemarau,” tutupnya.
(Sya'ban)












