PALANGKA RAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memasang perangkat Early Warning System (EWS) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana banjir serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalteng, Indra Wiratama, menyampaikan bahwa pemasangan alat pendeteksi bencana tersebut dilakukan di tiga kabupaten, yakni Barito Selatan, Barito Timur, dan Katingan.
“EWS ini berfungsi untuk mendeteksi potensi banjir dan karhutla. Saat ini sudah ditempatkan di tiga kabupaten yang tingkat kerawanannya cukup tinggi,” ujar Indra dalam keterangannya, Senin, 26 Januari 2026.
Ia menjelaskan, total terdapat enam unit alat EWS yang dipasang. Setiap kabupaten mendapatkan dua perangkat yang digunakan untuk memantau perubahan tinggi muka air sebagai indikator awal terjadinya bencana.
Melalui sistem tersebut, BPBD dapat memperoleh informasi peringatan dini berupa status kebencanaan mulai dari Waspada, Siaga hingga Awas, yang dapat segera disampaikan kepada masyarakat di sekitar lokasi.
“Alat ini membaca tinggi muka air secara berkala dan real time. Jika air meningkat berarti ada potensi banjir, sedangkan jika menurun dapat mengindikasikan risiko karhutla,” jelasnya.
Indra menambahkan, data yang dihasilkan EWS bersifat akurat dan dapat dipantau langsung oleh BPBD provinsi maupun kabupaten sebagai dasar pengambilan langkah cepat penanganan bencana.
Menurutnya, setiap alat memiliki kemampuan khusus untuk mengidentifikasi jenis ancaman yang terjadi sesuai kondisi lingkungan tempat pemasangan.
“Ketika terdeteksi banjir, sistem akan mengeluarkan peringatan banjir. Begitu pula saat terindikasi karhutla, peringatannya akan menyesuaikan dengan kondisi di lokasi tersebut,” tuturnya.
Meski demikian, Indra mengakui jumlah alat deteksi bencana yang tersedia saat ini masih terbatas. Berdasarkan data Kajian Risiko Bencana (KRB) Kalimantan Tengah, terdapat 84 kecamatan yang masuk dalam kategori risiko tinggi karhutla.
“Idealnya EWS dipasang minimal di lebih dari separuh wilayah berisiko tinggi. Namun saat ini baru tersedia tiga EWS karhutla, sehingga fungsinya masih bersifat lokal dan belum sepenuhnya mewakili kondisi daerah,” pungkasnya.
(Sya'ban)












