SAMPIT – Kelangkaan pupuk subsidi kembali menghantui petani di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Gudang pupuk yang menjadi tumpuan justru tak mampu memenuhi kebutuhan, membuat para petani menjerit dan terancam gagal panen.
Arfain, salah satu petani setempat, mengaku sempat ikut mengantre untuk mendapatkan pupuk. Namun antrean yang mengular panjang membuat banyak petani pulang dengan tangan kosong.
“Tadi sempat ngantri ngambil pupuk. Antriannya luar biasa, malah tidak cukup pupuk yang ada di gudang,” kata Arfain.
Ia menjelaskan bahwa saat gudang dibuka sempat terjadi kericuhan karena antrian panjang akibat banyak petani yang tidak terdaftar sebagai Elektronik Rencana Tanam Padi (E-RTP) dalam aplikasi Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) ikut mengantri untuk membeli pupuk bersubsidi.
“Infonya tadi malahan sempat ada kericuhan, karena faktor banyaknya antrian dengan banyak petani yang tidak terdaftar di aplikasi,” ungkapnya.
Dirinya menyampaikan bahwa pupuk subsidi untuk petani sangat sulit didapatkan. Masalah ini sudah dihadapi selama tiga tahun. Akibatnya, para petani terancam gagal panen dan sebagian sudah ada yang beralih menanam kelapa sawit.
“Sudah ada yang berubah pertanian jadi perkebunan kelapa sawit,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arfain menyampaikan kendala lain yaitu suplai pupuk yang tidak sesuai dengan waktu kebutuhan petani. “Kadang stok pupuk kosong. Saat petani tidak memerlukan pupuk banyak di gudang,” keluhnya.
Ia mengaku sudah mengadukan hal ini kepada dinas terkait, hingga Anggota Komis IV DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) yang akhirnya direspon oleh Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalteng.
Diberitakan sebelumnya bahwa para petani di Desa Lampuyang mengadu dan menyampaikan keluhan mereka yang sulit mendapatkan distribusi pupuk subsidi dan solar untuk alat pertanian kepada Anggota Komisi IV DPRD Kalteng, Abdul Hafid.
“Pupuknya ada jika sudah lewat masanya. Jika diperlukan maka sulit didapatkan,” beber Jumain.
Ia menyebut bahwa para petani kerap membeli pupuk dengan harga yang mahal karena ketersediaan pupuk di gudang sulit didapat jika saat waktu pemupukan.
“Jika punya uang sebagian memilih beli sendiri. Milik saya tidak saya pupuk sama sekali,” keluhnya.
Selain itu, ia juga mengeluhkan distribusi solar untuk alat pertanian. Menurutnya, alat pertanian sangat banyak di Desa Lampuyang tetapi bahan bakar sangat sulit di dapatkan.
“Mau ikut membeli di SPBU harus antri dan sulit karena ada regulasi yang mengatur. Alat banyak tetapi tidak maksimal karena keterbatasan bahan bakar,” imbuhnya.
Menanggapi hal itu, Abdul Hafid mengatakan akan menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan dan keluhan para petani. Ia menyebut masalah pertanian bukan hanya berpacu di Kabupaten tetapi di tingkat provinsi dan pusat.
“Akan kita catat dan kita bicarakan. Masalah pertanian tidak hanya di tingkap Kabupaten, tetapi juga pusat dan provinsi,” pungkasnya.
(UTOMO)












