PALANGKA RAYA – Pemerintah Kota Palangka Raya terus mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) agar mampu menembus pasar internasional.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menghadirkan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bersama mitranya, Indonesia Berdaya Saing (IBS), untuk memberikan pendampingan dan pembiayaan bagi IKM lokal.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengatakan kehadiran LPEI di Palangka Raya menjadi momentum penting bagi pelaku UMKM dan IKM di daerah tersebut.
“Hari ini menjadi momen yang cukup istimewa bagi UMKM dan IKM di Kota Palangka Raya, karena kami menghadirkan LPEI bersama mitranya dari Indonesia Berdaya Saing,” ucapnya.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran produk-produk IKM Palangka Raya yang telah dipasarkan ke Selandia Baru. Pada kesempatan tersebut, buyer dari Selandia Baru datang langsung ke Palangka Raya dan menilai produk-produk IKM lokal memiliki potensi untuk bersaing di pasar luar negeri.
“Produk-produk IKM kita dinilai layak dan memiliki peluang untuk dipasarkan di luar negeri, khususnya di Selandia Baru, dan ke depan tidak menutup kemungkinan ke negara lain,” tambahnya.
Produk-produk IKM Palangka Raya dinilai memiliki nilai tambah karena berbasis kerajinan tangan (handmade) serta mengandung nilai budaya yang kuat.
“Dengan pendampingan yang tepat serta penyesuaian terhadap kebutuhan pasar global, produk-produk tersebut diyakini mampu bersaing,” lanjutnya.
LPEI memiliki peran strategis dalam memberikan pendampingan sekaligus pembiayaan bagi IKM yang produknya telah menembus pasar ekspor.
“LPEI akan mendampingi IKM yang produknya sudah pernah terjual di luar negeri. Selain pendampingan, tidak menutup kemungkinan akan diberikan dukungan pembiayaan untuk pengembangan usaha,” tuturnya.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Palangka Raya mengundang sekitar 50 pelaku IKM untuk mendapatkan informasi terkait skema pembiayaan ekspor serta peluang pengembangan usaha.
“Selain itu, IBS juga dihadirkan untuk memberikan pembekalan dan pelatihan agar IKM mampu bersaing di pasar internasional.
Pentingnya storytelling dalam meningkatkan daya saing produk,” urainya.
Salah satu kelemahan produk IKM selama ini adalah kurangnya narasi yang menjelaskan nilai dan makna di balik produk.
“Produk bukan hanya soal bentuk, tetapi juga cerita. Mulai dari bahan baku, proses pembuatan, siapa yang membuat, hingga nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hal ini yang membuat konsumen luar negeri tertarik,” ungkapnya. (yud)












