Oleh: Selamat Purwanto, Pegiat Desa, Agrobis, Pemerhati Sosial dan Budaya
KELANGKAAN LPG 3 Kg bersubsidi yang dirasakan warga di kota ini bukan sekadar rumor. Sejak pertengahan Februari 2026, masyarakat di beberapa kecamatan seperti Baamang dan Mentawa Baru Ketapang kesulitan mendapatkan gas untuk kebutuhan rumah tangga, terutama menjelang Ramadan.
Temuan SPBE: Tabung Tidak Sesuai Standar
Sekitar pertengahan Februari, ditemukan bahwa tabung LPG 3 Kg bersubsidi tidak diisi sesuai standar. Tabung yang seharusnya 3 Kg hanya terisi 2,7–2,8 Kg. SPBE yang menjadi titik pengisian utama sempat disegel untuk penyelidikan, sehingga distribusi tersendat.
Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati.
“Kelangkaan yang disampaikan masyarakat bukan karena pasokan habis, tetapi karena kendala teknis di SPBE beberapa nozzle pengisian tidak bisa beroperasi bahkan disegel oleh aparat keamanan, sehingga distribusi menjadi terganggu,” ucapnya.
Kelangkaan yang Terasa oleh Masyarakat
Akibat gangguan pengisian, banyak warga harus pergi ke pangkalan lain demi mendapatkan tabung yang terisi penuh. Harga di pasaran melonjak di atas patokan resmi, menambah beban ekonomi bagi rumah tangga dan UMKM.
Warga Kecamatan Baamang.
“Ini sudah dua hari saya cari gas melon, baik di pangkalan maupun di warung eceran — ternyata kosong semua. Padahal biasanya mudah dicari,” ungkap Fitri.
Ardi, pedagang gorengan di Sampit. “Biasanya saya pakai dua tabung sehari. Sekarang satu tabung saja susah dapatnya… mau tidak mau jualan dikurangi karena gas susah dicari,” bebernya.
Penyebab Kelangkaan:
Kelangkaan ini disebabkan kombinasi beberapa faktor:
1. Isi tabung kurang dari standar, membuat stok cepat habis. Distribusi tidak merata, karena beberapa pangkalan SPBE terganggu.
2. Permintaan tinggi, terutama menjelang Ramadan. Harga eceran melonjak, mempersulit warga membeli LPG bersubsidi.
Dampak bagi Warga dan Usaha
Warga harus mengeluarkan waktu dan biaya ekstra untuk mencari tabung. Operasional rumah tangga dan UMKM terganggu akibat pasokan tidak konsisten. Potensi penimbunan atau perdagangan gelap meningkat, merugikan konsumen.
Tindakan Tegas Aparat
Pemerintah dan aparat terkait harus segera menindak SPBE atau pangkalan yang terbukti mengisi kurang dari standar. Langkah ini penting untuk menegakkan keadilan bagi konsumen.
Johny Tangkere, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kotim:
“Ini bukan kelangkaan dalam arti barang tidak tersedia. Hanya karena kerusakan kompresor di SPBE, beberapa nozel tidak berfungsi sehingga distribusi menjadi tertunda. Tabung tetap ada, hanya pengisian yang sempat bermasalah,” kata dia usai pengecekan di SPBE Pelangsian.
Solusi Menstabilkan Pasokan
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Pengawasan isi tabung secara rutin di SPBE dan pangkalan. Perbaikan distribusi agar stok lebih merata dan tersedia di pangkalan rawan kekurangan.
Edukasi dan sosialisasi harga HET agar tidak terjadi penjualan di atas batas resmi.
Operasi pasar dan dukungan pemerintah daerah untuk menstabilkan stok dan harga.
Alternatif energi sementara, seperti gas 5 Kg, kompor listrik, atau bahan bakar biomassa.
Kelangkaan LPG 3 Kg menunjukkan bahwa meski pasokan tersedia, distribusi yang tersendat dan tabung yang kurang isi bisa menimbulkan kepanikan nyata di masyarakat. Aroma gas yang sulit didapatkan, antrean panjang di pangkalan, dan harga melonjak adalah gambaran langsung dampak dari sistem yang belum sepenuhnya tertata.
Namun, di balik kesulitan itu ada harapan. Dengan pengawasan ketat, penindakan tegas terhadap pangkalan bermasalah, distribusi merata, dan edukasi harga yang jelas, warga bisa kembali merasa aman dalam kebutuhan rumah tangga mereka.
Kelangkaan ini menjadi panggilan bagi pemerintah, aparat, dan masyarakat untuk bersama memastikan bahwa setiap tabung yang sampai ke tangan warga benar-benar sesuai standar, dan setiap warga mendapat haknya tanpa harus membayar lebih.
Akhirnya, LPG bukan sekadar gas, tetapi kebutuhan dasar yang menyentuh dapur rakyat kecil. Ketika distribusi tertata dan pengawasan berjalan konsisten, jeritan warga pun akan berubah menjadi rasa tenang dan kepastian.(***)












