Sejumlah Jembatan Rusak di Kotim Dikeluhkan, Masyarakat Desak Perbaikan Permanen

NARDI/BERITASAMPIT - Kondisi Jembatan rusak di Sampit.

SAMPIT – Kerusakan sejumlah jembatan di wilayah Kabupaten Timur (Kotim) terus dikeluhkan masyarakat dan dinilai harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Selain mengganggu aktivitas warga, kondisi ini juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Jalan Iskandar, warga mengeluhkan jembatan kayu yang telah dibangun sejak 1998 dan tidak pernah ada perbaikan hingga kini dan belum mendapat penanganan maksimal. Kondisinya semakin memprihatinkan, dengan tiang pondasi yang patah dan struktur jembatan yang nyaris ambruk.

Ketua DPK Fordayak Mentawa Baru Ketapang, M Sopianoor, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Ia menyebut kerusakan sudah berlangsung puluhan tahun tanpa penanganan serius, bahkan telah menimbulkan korban kecelakaan.

“Sudah lama sekali rusaknya, tapi belum ada perbaikan yang benar-benar permanen. Ini sangat membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Warga pun khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, akses menuju wilayah mereka bisa terputus dan menyebabkan keterisolasian. Padahal jembatan tersebut menjadi jalur vital bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas sehari-hari.

Permasalahan serupa juga terjadi pada Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit. komisi IV DPRD Kotim dalam pembahasan APBD 2026 menilai perbaikan yang dilakukan selama ini masih bersifat tambal sulam dan tidak menyelesaikan akar persoalan.

Kalangan pun mendesak agar pemerintah daerah segera melakukan pembangunan permanen dengan konstruksi yang lebih kuat dan tahan lama, sehingga tidak lagi mengalami kerusakan berulang.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kotim melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) telah menyiapkan langkah penanganan. Pada 2026 ini, dialokasikan anggaran sekitar Rp400 juta untuk perbaikan sementara, termasuk penggantian pelat dan kayu ulin.

Kepala dinas terkait, Mentana Dhinar Tistama, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan studi kelayakan sebagai dasar pembangunan jembatan baru Kapten Mulyono.

“Kami tahun ini masih melakukan studi kelayakan. Jembatan ini sudah tua, sehingga perlu kajian sebelum dibangun ulang,” ujarnya.

Ia mengakui, perbaikan sementara tidak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan pemeliharaan rutin. Karena itu, pembangunan total ditargetkan bisa direalisasikan pada 2027, tergantung hasil kajian dan kemampuan anggaran daerah.

“Kalau hanya dipelihara, satu bulan diperbaiki bisa rusak lagi. Target kita pembangunan baru 2027, tentu melihat hasil FS dan kondisi anggaran,” katanya.

Di sisi lain, kerusakan juga terjadi pada jembatan kayu di Jalan Walter Condrad, Kecamatan Baamang. Kondisi lantai jembatan yang bergelombang dan patah bahkan dilaporkan telah memakan korban, sehingga warga harus ekstra hati-hati saat melintas.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak lagi menunda penanganan dan segera melakukan perbaikan menyeluruh. Jika tidak, kerusakan jembatan dikhawatirkan akan semakin parah, menimbulkan korban jiwa, dan mengganggu konektivitas di sejumlah wilayah Kotim. (Nardi)

baca juga ...  Polisi Terus Selidiki Kasus Kematian Jaka yang Jenazahnya Ditemukan di Desa Bajarum
Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!