Dari Pencari Tongkat Naga ke Penakluk Naga Gambut

IST/BERITASAMPIT - Muryanto bersama istri dan anaknya.

Kisah Muryanto, Transmigran UPT Kandan yang Bangkit Jadi Inspirasi

PAGI itu, Muryanto berdiri di antara deretan tanaman buah naga yang rapi di pekarangannya. Sulur-sulur hijau menggantung, sebagian berbuah merah menyala. Pemandangan itu nyaris tak pernah ia bayangkan 15 tahun lalu saat ia masih keluar masuk hutan, memikul kayu ulin demi bertahan hidup.

Tak ada yang menyangka, lelaki sederhana asal Yogyakarta ini pernah hidup dalam titik paling sulit sejak datang sebagai transmigran di UPT Kandan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Timur.

Tahun 2010 ia datang bersama rombongan transmigran dari Jawa Tengah. Seperti warga lain, ia membawa harapan besar: hidup lebih baik di tanah baru. Namun yang ia temui bukanlah kemudahan, melainkan lahan gambut dengan kadar asam tinggi, musim kemarau yang cepat mengeringkan tanah, dan musim hujan yang justru membuat tanaman tak maksimal.
Awalnya ia menanam hortikultura: jagung, timun, kacang, buncis, keladi, hingga pepaya. Namun biaya produksi tinggi. Ia harus menggunakan kapur penetral asam, pupuk kandang, dan pupuk kimia. Saat kemarau, ia membuat sumur bor dan membeli mesin alkon untuk menyiram tanaman. Harga bensin mahal, sementara hasil tidak sebanding dengan biaya.
Bertahun-tahun tak ada peningkatan berarti. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sering kali tidak cukup.

Saat itu, sebagian warga mulai beralih dari hortikultura ke tanaman buah naga. Muryanto belum berani mengikuti. Ia tetap bertahan, sambil menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Bahkan, ia keluar masuk hutan mencari sisa kayu ulin untuk dijual sebagai tongkat penyangga tanaman naga. Pekerjaan itu ia jalani lebih dari dua tahun bersama empat rekannya.

Bertahan Di Tengah Pilihan Sulit

Dalam diam, Muryanto mulai berpikir mengikuti langkah warga lain menanam buah naga. Namun situasinya seperti buah simalakama. Pekarangan rumahnya sudah terlanjur ditanami sawit dan mulai menghasilkan.

“Kalau ditebang, terus selama nunggu panen saya makan apa? Anak sekolah bagaimana?” pikirnya kala itu.

Selama ini pun, untuk menanam sayur dan hortikultura, ia harus meminjam lahan yang jauh dari permukiman.

Akhirnya, ia memilih jalan paling berat: tetap bertahan menanam hortikultura, sambil terus mencari kayu ulin di hutan untuk dijual, sekaligus mengumpulkan sedikit demi sedikit sebagai bahan tongkat miliknya sendiri.
Di rumah, sang istri tak kalah berjuang.
“Istri saya yang luar biasa tekun dan pekerja keras. Saya ke hutan, dia yang urus tanaman,” ucapnya pelan.

Dari Usaha Kecil Menuju Harapan Baru

Perlahan, harapan mulai terbuka. Ia berhasil membeli sebidang pekarangan di samping rumahnya. Sebagian lahan sudah ditanami karet.
Karet itu ditebang, tetapi batang bawahnya disisakan sekitar dua meter untuk dijadikan tongkat tanaman naga. Sisanya ia lengkapi dengan tongkat ulin yang telah ia kumpulkan.
Sekitar 600 tongkat berdiri.
Sambil merawat tanaman naga, ia tetap menanam sayuran di sela-selanya: tomat, gambas, kacang, jagung, bahkan cabai. Namun karena terlalu banyak tumpang sari, pertumbuhan buah naga belum maksimal.
Ditambah lagi, ia masih sering meninggalkan kebun untuk mencari kayu ulin di hutan.

Dari Musibah Lahir Kesadaran Baru

Perubahan besar justru datang dari sebuah musibah.
Suatu hari, saat berangkat kerja, Muryanto terjatuh dari sepeda motor dalam kondisi sendirian. Beruntung, ada pekerja perusahaan sawit yang melihat dan menolongnya.
Setelah dirawat di puskesmas, ia dibawa pulang. Kondisinya membaik, tetapi tenaga dan fisiknya tidak lagi sekuat semula.
Di situlah kesadaran itu muncul.
“Kenapa saya terus keluar masuk hutan cari kayu buat orang lain? Kenapa tidak saya tekuni saja kebun sendiri?” ujarnya mengingat momen itu.
Ia mulai memperhatikan tetangga yang menanam buah naga dan merawatnya dengan tekun. Hasilnya mulai terlihat.
“Kalau mereka bisa, harusnya saya juga bisa,” katanya mantap.
Sejak saat itu, ia mengambil keputusan besar: fokus bekerja dari rumah, merawat tanaman naga, dan menanam sayuran.

Panen Perdana yang Mengubah Arah

Awal 2020 menjadi titik balik hidupnya.
Ia mulai serius merawat tanaman buah naga di lahan seperempat hektare di samping rumahnya.
Panen pertama hanya 9 kilogram.
“Istri saya yang bantu sortir dan jual. Walaupun sedikit, rasanya sudah senang,” ujarnya.
Panen berikutnya meningkat menjadi 29 kilogram, lalu 100 kilogram.
Setelah tanaman berumur sekitar 1,5 tahun dan memasuki masa produktif, hasilnya melonjak. Dari lahan itu, ia pernah mencapai 1 ton per bulan, dengan harga Rp17 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
Dua tahun kemudian, ia menambah lahan baru. Produksi gabungan mencapai 2 hingga 2,5 ton per bulan.
Penghasilannya meningkat hingga puluhan juta rupiah. Namun hidupnya tetap sederhana.
Rumah papan yang dulu hampir roboh kini dibangun kembali menjadi rumah yang lebih layak. Ada teras, gudang panen, dan gudang pupuk. Ia juga mampu membelikan sepeda motor untuk anaknya sekolah.

Inovasi dan Modernisasi Kebun

Tahun 2025, ia kembali membuka kebun baru seluas setengah hektare.
Kali ini lebih modern, dengan sistem pengairan yang lebih baik.
Dengan total lahan lebih dari satu hektare, produksinya kini mampu mendekati 5 ton dalam satu siklus panen.

Inovasi Pupuk Organik: Biaya Turun, Hasil Naik

Tingginya biaya pupuk kimia mendorongnya berinovasi.
Ia belajar secara otodidak dari internet. Mesin pompa air bekas ia modifikasi menjadi alat pencacah sederhana.
Batang naga yang tidak produktif, buah rusak, sisa sayuran dapur, hingga air cucian beras difermentasi menjadi pupuk organik.
“Hasilnya bagus, biaya bisa ditekan,” jelasnya.
Ketergantungan pada pupuk kimia pun berkurang hingga sekitar 60 persen.
Hebatnya, pupuk ini tidak ia jual.
“Kalau ada yang butuh, saya kasih saja. Sekalian saya ajari,” katanya.

Jahe Di Sela Naga: Tambahan Rezeki Yang Cerdas

Ia juga menanam jahe di sela-sela tanaman naga.
Dalam delapan bulan, jahe siap panen dengan hasil 3 hingga 5 kuintal dari seperempat hektare lahan.
Harga jualnya berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
“Lumayan buat tambahan kebutuhan,” ujarnya sambil tersenyum.

Membuka Lapangan Kerja

Usahanya kini juga membuka peluang bagi orang lain.
Ia mempekerjakan dua hingga lima orang saat panen besar, serta satu pekerja tetap.
“Rezeki itu harus dibagi,” katanya singkat.

Semangat Berbagi, Tak Lupa Masa Sulit

Meski kini dikenal sebagai petani sukses di UPT Kandan, Muryanto tetap rendah hati.
Ia berbagi ilmu, bibit, dan pupuk kepada warga lain. Ia tidak ingin ada orang yang mengalami kesulitan seperti yang pernah ia rasakan.

Kebunnya kini bukan hanya tempat produksi, tetapi juga tempat belajar.
Dari tanah gambut yang dulu dianggap sulit, Muryanto membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh.
Dari hutan ulin yang dulu ia susuri untuk bertahan hidup, kini ia berdiri sebagai simbol kebangkitan.

Buah naga bukan sekadar komoditas. Ia adalah bukti bahwa kerja keras, kesabaran, dan keyakinan bisa mengubah nasib.
“Yang penting sekarang tidak seperti dulu lagi,” ujarnya pelan.
“Masih banyak yang harus saya pelajari,” tambahnya.
“Yang penting cukup, bisa berbagi, dan tetap bersyukur.”

baca juga ...  BPBD Kotim Sebut Nelayan Hilang di Sungai Desa Camba Belum Ditemukan

Oleh: Selamat Purwanto

Bagikan:
Berita Populer
error: Content is protected !!