PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebut inflasi di wilayah tersebut pada Maret 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) Edisi 1 April 2026 di Kantor BPS Kalteng, Palangka Raya, Rabu, 1 April 2026.
“Meningkatnya permintaan saat Idulfitri turut memengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas,” ujarnya.
BPS mencatat, inflasi Kalimantan Tengah pada Maret 2026 mencapai 0,54 persen secara bulanan (month-to-month).
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Kalteng tercatat sebesar 3,86 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 1,39 persen.
Agnes menjelaskan, lonjakan permintaan menjelang hari besar keagamaan menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Kenaikan harga terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” katanya.
Sejumlah komoditas utama yang terdampak antara lain beras, cabai rawit, ikan nila, dan bensin yang mengalami kenaikan harga selama periode tersebut.
Selain faktor permintaan, kenaikan harga beras juga dipengaruhi oleh kondisi pasokan yang belum memasuki masa panen di sejumlah wilayah.
“Meningkatnya permintaan saat Idulfitri, kenaikan harga beras karena belum memasuki masa panen, serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi turut memengaruhi pergerakan harga,” jelasnya.
Sementara itu, beberapa komoditas seperti daging ayam ras dan emas perhiasan tercatat membantu menahan laju inflasi agar tidak meningkat lebih tinggi.
(Sya'ban)












