SAMPIT – Sejarah masuknya ajaran Kekristenan di wilayah Mentaya hingga berkembangnya Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Maranatha di Sampit diungkapkan oleh Pendeta GKE Maranatha, Medio Rapano, Jumat 3 April 2026.
Ia menjelaskan, penyebaran ajaran Kristen di kawasan Mentaya bermula pada 1924 di Desa Kandan. Para pendatang dari Kapuas saat itu melakukan pelayanan secara sederhana, yakni dari rumah ke rumah.
“Awalnya masuk ke Kandan tahun 1924, dibawa oleh pendatang dari Kapuas dan dilakukan pelayanan dari rumah ke rumah,” ujar Medio.
Menurutnya, sebelum berkembang pesat di Sampit, penyebaran sempat dilakukan di wilayah Samuda. Namun, pertumbuhan jemaat justru lebih cepat terjadi di Sampit hingga menjadikannya pusat pelayanan.
Perkembangan tersebut ditandai dengan berdirinya gereja pertama pada 1937 yang masih berbahan kayu. Dua tahun berselang, gereja tersebut disahkan oleh tokoh asal Jerman.
“Tahun 1937 berdiri gereja pertama dari kayu. Lalu 1939 disahkan oleh Tuan Becker dari Jerman. Pelayanan awal dilayani oleh badan sending dari klasis Belanda di Amsterdam,” jelasnya.
Ia menambahkan, istilah klasis pada masa itu setara dengan resort dalam struktur gereja saat ini. Sampit kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat pelayanan penting di wilayah tersebut.
Memasuki periode 1953 hingga awal 1960-an, pelayanan semakin kuat dengan hadirnya pendeta yang menetap, salah satunya Pendeta Benyamin Adam yang melayani pada masa itu.
Seiring bertambahnya jumlah jemaat dan kondisi ekonomi yang membaik, Gereja Maranatha terus mengalami pembangunan hingga menjadi bangunan permanen seperti sekarang.
Dari Sampit, perkembangan jemaat meluas ke sejumlah wilayah lain seperti Kandan, Bajarum, Tumbang Kuling hingga Mentaya Hulu.
Saat ini, Gereja Kalimantan Evangelis di Kabupaten Kotawaringin Timur memiliki empat resort definitif dan empat calon resort, dengan jumlah jemaat mencapai sekitar 1.158 kepala keluarga atau kurang lebih 5.500 jiwa.
Selain Maranatha, pertumbuhan gereja di Sampit juga ditandai dengan hadirnya gereja lain seperti Eklesia dan Parapah yang diresmikan pada 2018.
“Gereja Parapah itu yang paling baru, lokasinya di Jalan Sudirman kilometer 7 dengan luas lebih dari dua hektare,” ungkapnya.
Dalam perayaan Paskah, Medio menegaskan bahwa momen tersebut merupakan inti dari iman Kristen, yakni memperingati wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.
“Hari Jumat Agung memperingati Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kemudian pada hari Minggu, Dia bangkit dari kematian. Itu kemenangan atas maut dan dasar keselamatan bagi umat yang percaya,” katanya.
Ia juga menyebutkan antusiasme jemaat di Sampit dalam mengikuti rangkaian ibadah Paskah sangat tinggi. Pada peringatan Jumat Agung, ibadah dilaksanakan beberapa kali di sejumlah gereja karena membludaknya jemaat.
“Di Maranatha tiga kali ibadah, Eklesia tiga kali, dan Parapah dua kali. Jemaat sangat banyak sampai harus menambah kursi,” ujarnya.
Menurutnya, kebangkitan Kristus menjadi dasar utama umat Kristen beribadah setiap hari Minggu sebagai bentuk penghormatan atas keselamatan yang diberikan.
“Paskah itu sangat penting karena Yesus bangkit dan memberikan keselamatan bagi umat manusia. Itu yang menjadi dasar iman dan pengharapan,” pungkasnya. (nardi)












