SAMPIT – DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong percepatan pembangunan jaringan listrik antarwilayah, khususnya yang menghubungkan Kecamatan Mentaya Hilir Utara hingga Pulau Hanaut. Hal ini disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kotim, Akhyannoor, usai rapat pembahasan kelistrikan, Selasa 7 April 2026.
Akhyannoor mengungkapkan, pembangunan jaringan listrik bertegangan 20 Kv dari Desa Bagendang Hilir yang melintasi atas Sungai Mentaya menuju Kecamatan Pulau Hanaut segera direalisasikan. Proyek tersebut dinilai sangat penting mengingat kondisi listrik di sejumlah wilayah masih belum stabil.
“Di wilayah seperti Bapinang, listrik sangat sulit hidup. Kipas angin saja tidak bisa berputar maksimal, apalagi untuk kebutuhan lain seperti pompa air yang membutuhkan tegangan kuat, yang dibangun kabel atas,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat sangat berharap adanya peningkatan kualitas daya listrik, tidak hanya sekadar tersambung tetapi juga stabil. DPRD pun optimistis jika pembangunan pembangkit seperti PLTU di wilayah Bagendang dapat terealisasi, maka pasokan listrik di Kotim akan semakin baik dan merata bahkan ke Pulau Hanaut hingga ke Desa Satiruk.
Terkait progres pembangunan jaringan ke Pulau Hanaut, polisiti Gerindra dapil 3 ini menyebutkan bahwa target penyelesaian diperkirakan dalam waktu tiga bulan ke depan. Saat ini, proses masih berjalan termasuk pengurusan berbagai izin yang dibutuhkan.
Ia juga menegaskan adanya, kendala utama yang dihadapi jika jaringan listrik berada di luar akses jalan, yang berpotensi menyulitkan petugas saat terjadi gangguan, terutama pada malam hari.
“Seperti di Telawang ada jaringan yang diluar akses jalan, kalau ada gangguan dan akses jalannya sulit, tentu akan menyulitkan perbaikan. Gangguan kerusakan bisa disebabkan hewan, dan itu bisa membuat listrik padam semalaman,” katanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, DPRD meminta keterlibatan perusahaan perkebunan besar swasta (PBS) di sekitar wilayah agar turut membantu pembangunan akses jalan melalui program CSR. Dengan adanya jalan yang fungsional, diharapkan penanganan gangguan listrik bisa lebih cepat.
“Setidaknya ada tiga perusahaan di sekitar lokasi, termasuk MAP. Kita harapkan mereka bisa bekerja sama membantu membuka akses jalan,” tegasnya.
Ia menyebutkan, secara umum pihak perusahaan menunjukkan respons positif dan siap mendukung, terutama untuk kepentingan masyarakat luas. Bahkan, berdasarkan informasi dari kepala desa dan camat, selama ini perusahaan juga kerap membantu perbaikan jalan.
Namun demikian, Akhyannoor menegaskan bahwa sumber listrik tetap berasal dari PLN, bukan dari perusahaan. Hal ini untuk menghindari potensi masalah teknis jika terjadi gangguan pada jaringan.
Adapun wilayah yang menjadi prioritas pengembangan jaringan juga meliputi Kecamatan Telawang beberapa desa seperti Kenyala, Penyang, dan wilayah Kota Besi. Selain itu, Kecamatan Hanaut juga menjadi fokus dalam pemerataan listrik.
DPRD Kotim juga menyoroti pentingnya sinkronisasi pembangunan antar daerah pemilihan agar seluruh wilayah dapat terakomodasi secara merata. Mereka berharap seluruh proses, termasuk perizinan dan teknis di lapangan, dapat dipercepat.
“Target kita tiga bulan ke depan sudah terealisasi di Pulau Hanaut. Masyarakat ingin listrik yang tidak hanya menyala, tapi juga stabil. Itu yang menjadi harapan bersama,” pungkasnya. (nardi)












