PULANG PISAU – Sebanyak 71 peserta didik binaan Sanggar Budaya Bukit Kahias (SaBaBuka) mengikuti uji kompetensi seni tari di Pulang Pisau sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan, disiplin, dan rasa percaya diri sekaligus menjaga kelestarian budaya daerah.
Pembina SaBaBuka, Arum Aisah di Pulang Pisau, Rabu malam 27 Mei 2026 mengatakan, uji kompetensi tersebut menjadi tahapan penting bagi peserta didik setelah menjalani proses latihan dalam berbagai jenjang pembelajaran tari tradisional.
Menurutnya, peserta yang telah memenuhi kemampuan dan keterampilan sesuai tingkat pembelajaran nantinya dapat naik ke jenjang berikutnya. Dalam kegiatan tersebut terdapat empat tingkatan kelas, mulai dari tari Bahalai, tari Kiap, tari Giring-Giring hingga tari Dadas.
“Anak-anak yang sudah mengikuti latihan dan dinilai memenuhi kemampuan tertentu nantinya dapat naik tingkat sesuai perkembangan keterampilan mereka,” ujar Arum Aisah.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti berbagai kelompok usia mulai dari anak Taman Kanak-kanak (TK), pelajar Sekolah Dasar (SD), hingga peserta yang sudah bekerja. Tingginya partisipasi itu menunjukkan minat masyarakat terhadap seni tari tradisional masih cukup besar dan terus berkembang di Kabupaten Pulang Pisau.
Arum menilai uji kompetensi tidak hanya menjadi sarana mengukur kemampuan menari, tetapi juga membentuk mental dan rasa percaya diri peserta didik. Dengan terbiasa tampil di depan umum, anak-anak dinilai akan lebih siap mengikuti perlombaan maupun tampil dalam berbagai kegiatan budaya.
“Bahkan ada peserta yang baru berusia lima tahun sudah berani mengikuti uji kompetensi. Ini menunjukkan kecintaan terhadap seni budaya dapat ditanamkan sejak usia dini,” katanya.
Ia berharap keberadaan sanggar seni dapat menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk terus berkarya dan mengenal budaya daerahnya sendiri. Menurutnya, pelestarian seni tari tradisional harus terus dilakukan agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman. Meski hingga kini SaBaBuka masih belum memiliki tempat latihan tetap dan sementara menggunakan fasilitas umum di sekitar Lapangan Handep Hapakat, semangat peserta didik untuk belajar dan melestarikan budaya daerah tetap tinggi. (denny)












