SAMPIT – Dinamika Musda Golkar XI Kotawaringin Timur (Kotim) yang akan datang begitu sengit. Nama-nama populer, baik dari kader murni sampai kader baru, ikut menyemarakkan pertarungan Ketua Golkar periode 2025-2030. Nama seperti Hj. Rachmawati, H. Rahadian Fani, Sugianto, H. Rudianur, dan H. Siyono saling berkompetisi memperebutkan dukungan pemilik suara pada Musda nanti.
Pengurus Harian Golkar Mursalin mengapresiasi banyaknya kader yang berminat berkompetisi pada Musda XI ini, dengan syarat mereka sesuai dengan ketentuan dalam AD/ART dan peraturan lainnya di Partai Golkar.
“Ini menjadi perhatian saya sebagai kader agar mekanisme dalam AD/ART menjadi rujukan utama sehingga Partai Golkar dapat menghasilkan produk kepemimpinan yang lahir dari seleksi alami, dan bukan produk yang diendorse oleh kepentingan elite tertentu dalam Golkar,” ungkapnya, Selasa 23 Juni 2026.
Sebab, Golkar sebagai partai terbuka dan modern yang menjadi kebanggaan setiap kader, menjadikan mekanisme sebagai filter penyeimbang setiap kepentingan yang berbeda.
Mengerucut Dua Nama Siyono dan Rudianur
Dari dinamika di lapangan, memang kristalisasi penguatan dukungan mulai mengerucut kepada dua orang, yaitu Siyono dan Rudianur.
Keduanya tentu merupakan kader terbaik yang dimiliki Golkar dengan segala plus dan minusnya. Sebagai kader, saya mendukung keduanya selama memenuhi AD/ART partai. Jika pun ada kekurangan pada masing-masing calon, kiranya dapat dimusyawarahkan secara baik.
“Bagi saya, kepatuhan terhadap mekanisme aturan menjadi rujukan utama jika Golkar ingin menjadi partai pemenang dalam setiap kontestasi kekuasaan di Kotim, baik eksekutif maupun legislatif,” imbuhnya.
Jangan Ada Standar Ganda dalam Pemilihan Ketua
Ia mengingatkan jangan sampai ada pandangan bahwa satu calon dianggap melanggar aturan karena mendukung calon tertentu, sementara calon lain dianggap tidak melanggar karena bukan calon yang didukung.
“Itu namanya standar ganda. Saya ingin Golkar tetap solid di tengah perbedaan. Karena itu, saya berharap setiap kader Golkar memiliki kesadaran yang sama di semua tingkatan,” ujarnya.
Berdasarkan dinamika dukungan di lapangan, ia melihat dukungan kepada Siyono menguat dibandingkan calon lainnya. Namun, hal ini masih harus dibuktikan dalam forum Musda.
Dari sejumlah pemilik suara, sudah dapat diperkirakan ke mana arah dukungan terhadap calon-calon yang ada.
Dirinya berharap seluruh pengurus di segala tingkatan, baik kabupaten, provinsi, maupun pusat, dapat secara bijaksana mempertimbangkan dinamika Golkar Kotim sehingga terpilih ketua yang kapabel untuk memimpin Golkar lima tahun ke depan.
Dorongan Pemilihan Secara Voting
Diharapkan agar proses pemilihan ketua dilakukan secara lebih fair, yakni melalui mekanisme voting, bukan aklamasi berdasarkan penunjukan langsung dari pengurus di tingkat atas.
Dengan demikian, siapa pun yang terpilih akan memiliki legitimasi yang kuat sebagai ketua, bukan hanya legalitas semata, sehingga riak-riak perpecahan di tubuh Golkar seperti yang pernah terjadi pada masa lalu tidak terulang kembali.
“Berdasarkan pengalaman saya sebagai ketua partai, legalitas saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan legitimasi. Apabila keterpilihan seorang ketua berbasis pada kedua pilar tersebut, maka ia akan diterima oleh semua pihak dengan lapang dada,” pungkasnya. (Nardi)












