PALANGKA RAYA – Program cetak sawah dalam mendukung Swasembada Pangan Nasional di Kalimantan Tengah (Kalteng) telah mencapai 26,4 ribu hektare hingga 5 Agustus 2026.
Wakil Gubernur Kalteng, Edy Pratowo, mengatakan pengembangan lahan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung Program Swasembada Pangan Nasional.
Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Pelaksanaan Pendidikan Tinggi Vokasi Bidang Pertanian di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng, Kamis, 6 Agustus 2026.
“Kami berkomitmen mendukung Program Swasembada Pangan Nasional sebagai bagian dari Program Strategis Nasional Asta Cita,” ujarnya.
Edy mengatakan pengembangan lahan cetak sawah di Kalteng terus berjalan dan telah mencapai 26,4 ribu hektare.
“Hingga saat ini, pengembangan lahan cetak sawah di Kalteng telah mencapai 26,4 ribu hektare,” katanya.
Menurutnya, capaian tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lahan pertanian dapat dikelola secara produktif dan berkelanjutan.
“Potensi tersebut harus didukung sumber daya manusia yang mampu mengelola lahan secara produktif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Edy menilai pembangunan sektor pertanian tidak cukup hanya melalui pembukaan lahan, tetapi juga harus disertai penguatan kapasitas petani.
“Kami meyakini bahwa investasi terbaik bukan hanya membangun lahan pertanian, tetapi juga membangun sumber daya manusia. Lahan yang luas tidak akan memberikan hasil optimal tanpa petani yang terampil,” ujarnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pemprov Kalteng terus memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui Pendidikan Tinggi Vokasi Bidang Pertanian.
“Program ini dirancang sesuai kebutuhan lapangan dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori,” katanya.
Peserta pendidikan juga dibekali kompetensi pertanian modern, pengoperasian alat dan mesin pertanian, serta kewirausahaan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola usaha pertanian.
“Peserta juga dibekali kompetensi pertanian modern, pengoperasian alat dan mesin pertanian, serta kewirausahaan agar mampu menjadi pelaku usaha pertanian yang mandiri,” pungkas Edy.
(Sya'ban)












